"Angka tersebut akan didapatkan dari beberapa sektor seperti bisnis infrastruktur, ESDM, public health dan lain sebagainya,” terang Ronni.
Saat ini, pendapatan operator lebih banyak didapat dari para pelanggan konsumen ketimbang bisnis. Tapi untuk soal penerapan 5G, Ericsson menjanjikan bahwa keuntungan puluhan miliar itu akan didapat dari sektor bisnis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Selesaikan Perkara 4G Demi Adopsi 5G |
Sayang, Ericsson tak memberi paparan yang jelas ketika ditanya soal investasi yang harus digelontorkan operator agar bisa mengantongi keuntungan sebesar itu. Sebab, untuk menggelar layanan dengan teknologi baru membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Ericsson sendiri adalah penyedia perangkat teknologi telekomunikasi yang digunakan oleh para operator di Indonesia.
Pertumbuhan pengguna pesat
Untuk menunjukkan potensi Indonesia, Ericsson telah merilis Mobility Report November 2017 mengenai pasar global, regional dan Indonesia selama kuartal terakhir 2017 dan prediksi 2018. Menurut Ericsson, pelanggan ponsel pintar Indonesia telah bertambah sebanyak 7 juta pelanggan pada kuartal ketiga.
Posisi ketiga sampai kelima di bawah Indonesia ditempati Amerika Serikat dengan tambahan 4 juta pelanggan, Angola 4 juta pelanggan, dan Pakistan 4 juta pelanggan.
Berdasarkan analisis Ericsson, jumlah langganan mobile di Indonesia pada 2017 telah mencapai sekitar 370 juta orang. Indonesia diprediksi akan mencapai lebih dari 400 juta pelanggan pada 2023.
Bisa disebut bahwa jumlah langganan LTE atau 5G pada 2017 yang mencapai lebih dari 60 juta akan menjadi lebih dari 320 juta pada 2023. (eks)