Terapkan 5G, Operator Dipancing Potensi Untung Rp81,5 Triliun

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Selasa, 19/12/2017 09:05 WIB
Terapkan 5G, Operator Dipancing Potensi Untung Rp81,5 Triliun Ilustrasi pabrik. Sektor manufaktur disebut-sebut akan menjadi pendorong utama untung berlipat yang bisa didapat operator dengan menerapkan 5G (dok. Xiaomi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ronni mengungkapkan bahwa 5G yang diprediksi mulai diaplikasikan di Indonesia pada 2021 memiliki potensi untuk menghasilkan pendapatan tambahan sebesar 30 persen, atau sekitar US$6 miliar (sekitar Rp81,5 triliun) untuk operator di Indonesia.

"Angka tersebut akan didapatkan dari beberapa sektor seperti bisnis infrastruktur, ESDM, public health dan lain sebagainya,” terang Ronni.

Saat ini, pendapatan operator lebih  banyak didapat dari para pelanggan konsumen ketimbang bisnis. Tapi untuk soal penerapan 5G, Ericsson menjanjikan bahwa keuntungan puluhan miliar itu akan didapat dari sektor bisnis. 


Namun dari paparan Ericsson, tampak bahwa sektor manufaktur (US$1,1 miliar), energi dan utilitas (US$1 miliar), keamanan publik (US$0,8 miliar), kesehatan (US$0,7 miliar), dan transportasi publik (US$0,7 miliar) akan menjadi lima besar penyumbang pendapatan terbanyak dari penerapan 5G oleh operator.

Sayang, Ericsson tak memberi paparan yang jelas ketika ditanya soal investasi yang harus digelontorkan operator agar bisa mengantongi keuntungan sebesar itu. Sebab, untuk menggelar layanan dengan teknologi baru membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

"Kalau sekarang vendor belum bisa menyebutkannya karena masih harus melewati beberapa proses ya. Belum standarisasi juga sehingga belum bisa dibandingkan dengan teknologi sebelum-sebelumnya pula," lanjut dia.

Ronni juga menjelaskan bahwa 5G tak hanya menguntungkan operator tetapi juga pemerintah dan pengguna jaringan itu sendiri berkat kecepatan dan kapasitasnya yang lebih bisa diandalkan untuk teknologi masa depan.

Ericsson sendiri adalah penyedia perangkat teknologi telekomunikasi yang digunakan oleh para operator di Indonesia. 

Pertumbuhan pengguna pesat

Untuk menunjukkan potensi Indonesia, Ericsson telah merilis Mobility Report November 2017 mengenai pasar global, regional dan Indonesia selama kuartal terakhir 2017 dan prediksi 2018. Menurut Ericsson, pelanggan ponsel pintar Indonesia telah bertambah sebanyak 7 juta pelanggan pada kuartal ketiga.

Hal tersebut telah menjadikan Indonesia sebagai negara kedua di seluruh dunia dengan pertambahan pengguna terbesar. Posisinya dikalahkan Tiongkok yang berada di posisi pertama dengan tambahan sebesar 30 juta pelanggan.

Posisi ketiga sampai kelima di bawah Indonesia ditempati Amerika Serikat dengan tambahan 4 juta pelanggan, Angola 4 juta pelanggan, dan Pakistan 4 juta pelanggan.

Berdasarkan analisis Ericsson, jumlah langganan mobile di Indonesia pada 2017 telah mencapai sekitar 370 juta orang. Indonesia diprediksi akan mencapai lebih dari 400 juta pelanggan pada 2023.

"Kami perkirakan akan terjadi peningkatan jumlah langganan mobile LTE atau 5G sebanyak lima kali lipat dari tahun 2017 sampai 2023, dan jumlah langganan LTE atau 5G akan menyumbang lebih dari 80 persen dari total langganan mobile di Indonesia pada 2023," tambah Vice President of Network Solution Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, di Jakarta, Senin (18/12).

Bisa disebut bahwa jumlah langganan LTE atau 5G pada 2017 yang mencapai lebih dari 60 juta akan menjadi lebih dari 320 juta pada 2023. (eks/eks)


BACA JUGA