SoftBank Kini Jadi Pemegang Saham Mayoritas Uber

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Jumat, 19/01/2018 20:53 WIB
SoftBank Kini Jadi Pemegang Saham Mayoritas Uber SoftBank kini menjadi pemegang saham mayoritas Uber. (dok. CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekumpulan grup investor yang dipimpin SoftBank Group Corp. akhirnya berhasil menyelesaikan kesepakatan dengan Uber Technologies Inc. pada Kamis (18/1). Kesepakatan itu resmi menempatkan SoftBank sebagai pemegang saham mayoritas perusahaan penyedia layanan ride-hailing tersebut.

Kesepakatan itu mencakup pembelian saham yang besar dari para investor Uber dan karyawan yang ada dengan valuasi diskon sebesar US$48 miliar (Rp639,7 triliun). Nilai itu menjadikannya 30 persen lebih murah dari valuasi Uber terbaru sebesar US$68 miliar (Rp906 triliun). 

Kelompok investor yang dipimpin oleh SoftBank dan Dragoneer Investment Group serta Sequoia Capital ini juga telah menyelesaikan investasi tunai sebesar US$1,25 miliar (16,7 triliun) lainnya. Secara keseluruhan, para investor mengambil bagian sekitar 17,5 persen di Uber sementara SoftBank sendiri mendapat 15 persen porsi saham terbesar dari Uber. 


Seperti dilaporkan sebelumnya, investasi tersebut memicu sejumlah perubahan tata kelola di Uber, termasuk penambahan anggota dewan baru. SoftBank menambahkan dua perwakilan ke dewan direksi Uber yaitu Rajeev Misra dan Marcelo Claure.

Misra ingin Uber berfokus pada pertumbuhan di Amerika Serikat, Eropa, Amerika Latin dan Australia - bukan Asia yang merupakan daerah yang dinilai paling mahal dan kompetitif bagi perusahaan jasa transportasi. 

Perubahan seperti itu bisa membantu Uber mencapai profitabilitas dengan lebih cepat,. Namun juga berarti mundur dari beberapa pasar transportasi terbesar dunia.

Penutupan resmi kesepakatan tersebut menandai berakhirnya proses panjang yang penuh dengan perselisihan antar anggota dewan selama beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, perebutan kekuasaan sengit terjadi antara investor awal Uber, Benchmark Capital, dengan mantan CEO Travis Kalanick.

Uber sendiri sedang berjuang menghadapi kontroversi, termasuk dugaan kriminal federal yang menuduh terjadinya pelanggaran data sangat besar. Uber juga menghadapi tuntutan hukum yang mengklaim pencurian rahasia dagang.

"Ini adalah hasil yang bagus bagi para pemegang saham, karyawan dan pelanggan kami, memperkuat tata kelola Uber saat kami melipatgandakan investasi teknologi kami dan terus membawa layanan kami ke lebih banyak orang di lebih banyak tempat di seluruh dunia," kata juru bicara Uber seperti dilaporkan Reuters, Jumat (19/1).

Sementara itu, Kalanick yang menjual hampir sepertiga dari 10 persen sahamnya di Uber kini menjadi miliuner. Menurut sumber, dia mendapat harga sekitar US$ 1,4 miliar (Rp18,6 triliun) setelah melepas sahamnya di Uber. (evn)