Kesepakatan itu mencakup pembelian saham yang besar dari para investor Uber dan karyawan yang ada dengan valuasi diskon sebesar US$48 miliar (Rp639,7 triliun). Nilai itu menjadikannya 30 persen lebih murah dari valuasi Uber terbaru sebesar US$68 miliar (Rp906 triliun).
Kelompok investor yang dipimpin oleh SoftBank dan Dragoneer Investment Group serta Sequoia Capital ini juga telah menyelesaikan investasi tunai sebesar US$1,25 miliar (16,7 triliun) lainnya. Secara keseluruhan, para investor mengambil bagian sekitar 17,5 persen di Uber sementara SoftBank sendiri mendapat 15 persen porsi saham terbesar dari Uber.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misra ingin Uber berfokus pada pertumbuhan di Amerika Serikat, Eropa, Amerika Latin dan Australia - bukan Asia yang merupakan daerah yang dinilai paling mahal dan kompetitif bagi perusahaan jasa transportasi.
Penutupan resmi kesepakatan tersebut menandai berakhirnya proses panjang yang penuh dengan perselisihan antar anggota dewan selama beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, perebutan kekuasaan sengit terjadi antara investor awal Uber, Benchmark Capital, dengan mantan CEO Travis Kalanick.
"Ini adalah hasil yang bagus bagi para pemegang saham, karyawan dan pelanggan kami, memperkuat tata kelola Uber saat kami melipatgandakan investasi teknologi kami dan terus membawa layanan kami ke lebih banyak orang di lebih banyak tempat di seluruh dunia," kata juru bicara Uber seperti dilaporkan Reuters, Jumat (19/1).
Sementara itu, Kalanick yang menjual hampir sepertiga dari 10 persen sahamnya di Uber kini menjadi miliuner. Menurut sumber, dia mendapat harga sekitar US$ 1,4 miliar (Rp18,6 triliun) setelah melepas sahamnya di Uber. (evn)