Sektor E-Commerce Tumbuh, Tokopedia Merajai Pasar Indonesia

Agnes Savithri, CNN Indonesia | Rabu, 21/02/2018 11:14 WIB
Sektor E-Commerce Tumbuh, Tokopedia Merajai Pasar Indonesia Ilustrasi. (Foto: Thinkstock/Andrey Popov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri e-commerce di Indonesia meningkat sejalan dengan masyarakat yang semakin 'melek' teknologi.

Dilansir dari Asian Nikkei Review, Indonesia mengalami pertumbuhan konsumen ecommerce sebesar 11 juta sepanjang 2017. Jumlah ini membuat total konsumen e-commerce menjadi 35 juta.

Survei yang dilakukan FT Confidential Research (FTCR) terhadap 1.000 konsumen perkotaan memperlihatkan ecommerce lokal yakni Tokopedia masih menjadi 'tuan di rumah sendiri' dengan mengalahkan Lazada Indonesia.
E-commerce yang dikepalai William Tanuwijaya ini berhasil meraih 70% masyarakat Indonesia dengan memperkuat posisinya di Pulau Jawa.


Padahal tahun sebelumnya, e-commerce Lazada Indonesia masih bertengger di posisi pertama.

Dari sisi kinerja, Tokopedia memang tengah naik daun. Pertengahan tahun lalu, marketplace ini mendapatkan kucuran dana dari raksasa e-commerce dunia Alibaba Group sebesar US$1,1 miliar atau setara Rp14,7 triliun.

Suntikan dana ini membuat e-commerce asal China itu menjadi salah satu pemegang saham minoritas Tokopedia. Investasi tersebut mengikuti keputusan Alibaba sebelumnya untuk meningkatkan saham pengendali di Lazada Group menjadi 83%.
Sementara itu, yang turut masuk ke dalam jajaran 10 besar e-commerce Indonesia adalah Shopee dan JD.id. Shopee yang meluncur di Tanah Air pada Desember 2015 saat ini berada di peringkat ketiga dalam daftar survei FTCR. Posisi ini telah mengalahkan Bukalapak yang beroperasi sejak 2010.

Posisi 10 besar tersebut dinilai berasal dari gebrakan besar yang dilakukan Shopee tahun lalu. E-commerce ini menawarkan pengiriman gratis atau diskon besar selama promosi seperti Shopee Big Mobile Shopping Day. Menurut perusahaan monitor iklan TV, Adstensity, e-commerce tersebut rela merogoh kocek sebesar Rp205,9 miliar rupiah untuk iklan televisi pada 2017

Sementara perusahaan afiliasi dari China JD.com, JD.id pun masuk ke dalam 10 besar dengan menghabiskan Rp215,6 miliar untuk iklan TV dengan pesan bahwa produknya asli. Iklan tersebut menargetkan untuk menghilangkan kekhawatiran konsumen terhadap risiko penipuan yang sering dikaitkan dengan platform consumer-to-consumer.
Pasalnya, survei FTCR menunjukkan bahwa kualitas produk adalah perhatian nomor 1 di kalangan pembeli online.

Iklan televisi memang dinilai efektif untuk menggaet pelanggan baru. Namun, ternyata faktanya iklan televisi yang dilakukan e-commerce menurun hampir 14% sepanjang 2017. Penurunan ini pun disumbang oleh Tokopedia yang menurunkan dana iklan televisinya hingga 30,8% dan OLX yang menghabiskan 50,3% lebih sedikit dari tahun sebelumnya.

Selain meningkatnya konsumen belanja online, ternyata ada fakta menarik lainnya. Konsumen tercatat lebih sering melakukan belanja online.
Survei menunjukkan proporsi berbelanja online sebulan sekali tumbuh lebih dari 60% pada 2017, meningkat dari sekitar 30% pada 2016.

Namun, nilai transaksi tercatat masih rendah. Survei memperlihatkan 60% kaum urban yang memiliki pendapatan bulanan sebesar Rp7,7 juta menghabiskan ku (age/age)