UJI PRODUK
Sennheiser PXC550, Saring Suara Bising Pakai Noise Cancelling
Bintoro Agung | CNN Indonesia
Senin, 26 Mar 2018 12:34 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Sadar atau tidak, musik yang kita dengarkan dapat mempengaruhi kadar kebahagiaan manusia di waktu tertentu. Apalagi kalau musik tersebut didengar dalam kualitas audio terbaiknya.
Kesimpulan itu kami dapat ketika memakai headphone model PXC 550 dari Sennheiser. Meski demikian, tak semua yang diusung headphone tersebut hal positif. Ada pula catatan negatif dari headphone berbanderol Rp6,5 juta itu. Berikut catatan lengkap kami mengenai Sennheiser PXC 550.
Desain Headphone
CNNIndonesia.com berkesempatan menjajal PXC 550 untuk beberapa waktu. Modelnya yang sederhana dan agak konservatif dengan warna black matte nampak menjanjikan dari pandangan pertama.
Bobotnya pun ringan, sekitar 227 gram saja. Untuk dibawa bepergian, PXC 550 cukup nyaman, baik di dalam kantong kanvas yang disediakan atau digantung di leher.
Sennheiser PXC 550 adalah headphone bluetooth, dengan desain dan teknologi yang berpusat pada earcup headphone.
Secara desain, headphone ini punya earcup yang nyaman untuk telinga. Lubang earcup dibuat mengikuti bentuk telinga yang lonjong dengan bantalan yang tebal nan empuk. Untuk hal ini, Sennheiser sukses menciptakan earcup yang sangat bersahabat untuk kuping.
Sennheiser menjejalkan semua fiturnya di earcup kanan headphone. Di sana ada tombol aktivasi bluetooth, tombol modus suara (ada modus 'Club', 'Movie', 'Speech', dan 'Off'), tombol noise cancellation, lubang charger mini USB, lubang audio 2,5 mm, hingga lampu indikator baterai.
Namun, yang paling menarik dari earcup kanan tersebut adalah kendali headphone yang berupa touchpad. Dengan permukaan earcup kanan, pengguna PXC 550 bisa mengoperasikan headphone dengan gestur sentuhan jari.
Usap ke depan untuk memutar lagu berikutnya, ke belakang untuk lagu sebelumnya, usap ke atas dan ke bawah untuk mengatur volume suara. Gestur tersebut juga berlaku untuk menerima atau menolak telepon yang masuk.
Pada earcup kiri, Sennheiser membenamkan teknologi koneksi Near Field Communication (NFC) di dalamnya. Ini jadi salah opsi tambahan PXC 550 agar terhubung ke suatu gawai selain bluetooth.
Kesimpulan itu kami dapat ketika memakai headphone model PXC 550 dari Sennheiser. Meski demikian, tak semua yang diusung headphone tersebut hal positif. Ada pula catatan negatif dari headphone berbanderol Rp6,5 juta itu. Berikut catatan lengkap kami mengenai Sennheiser PXC 550.
Desain Headphone
Headphone Sennheiser PXC550 memiliki model sederhana dan konservatif dengan warna black matte. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sennheiser PXC 550 adalah headphone bluetooth, dengan desain dan teknologi yang berpusat pada earcup headphone.
Namun, yang paling menarik dari earcup kanan tersebut adalah kendali headphone yang berupa touchpad. Dengan permukaan earcup kanan, pengguna PXC 550 bisa mengoperasikan headphone dengan gestur sentuhan jari.
Paling menarik dari earcup kanan tersebut adalah kendali headphone yang berupa touchpad. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
Usap ke depan untuk memutar lagu berikutnya, ke belakang untuk lagu sebelumnya, usap ke atas dan ke bawah untuk mengatur volume suara. Gestur tersebut juga berlaku untuk menerima atau menolak telepon yang masuk.
Pada earcup kiri, Sennheiser membenamkan teknologi koneksi Near Field Communication (NFC) di dalamnya. Ini jadi salah opsi tambahan PXC 550 agar terhubung ke suatu gawai selain bluetooth.
Kinerja dan Kualitas Audio
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Headphone Sennheiser PXC550 memiliki model sederhana dan konservatif dengan warna black matte. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Paling menarik dari earcup kanan tersebut adalah kendali headphone yang berupa touchpad. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma
Sennheiser mengklaim headphone ini bisa dipakai hingga 30 jam. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)