Risky Febrian, analis dari IDC Indonesia, mengatakan menurunnya performa porsi ponsel cerdas di pasar tak lepas dari kemampuan finansial tak sebanding dengan para kompetitornya.
Risky mencontohkan produsen asal China seperti Oppo dan Vivo. Kedua produsen ini mampu menggaet pasar dengan cepat berkat dukungan finansial yang kuat di aspek ritel dan pemasaran yang jor-joran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IDC menyebut kondisi pasar smartphone di Indonesia pada 2017 didominasi oleh lima pemain besar yakni Samsung, Oppo, Advan, Asus, dan Vivo dengan total pangsa pasar 74,9 persen dari jumlah pengiriman 30,4 juta unit.
Selama kurun waktu tersebut, hanya Advan yang masih bertahan di lima besar. Bahkan pangsa pasarnya naik tipis dari 6,8 persen pada 2016 menjadi 7,7 persen pada 2017.
Lihat juga:Asus ZenFone 5 Meluncur 17 Mei di Indonesia |
Ketika harga rata-rata ponsel ini meningkat produsen lokal terjebak dalam dilema. Risky menilai jika mereka meninggalkan pasar entry level jadi habitatnya menuju segmen menengah seperti tren yang ada, mereka akan berhadapan dengan kompetitor global seperti Samsung dan lainnya.
"Pada akhirnya dari kekuatan finansial menentukan posisi mereka di pasar," imbuh Risky.
Berdasarkan catatan IDC Indonesia, pangsa pasar produsen lokal dan global kian menurun, sementara produsen China terus meningkat sejak 2013. (evn)