Survei yang dilakukan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menemukan hampir dua dari tiga pengemudi Gojek mengetahui bahwa ada rekan mereka yang pernah jadi pelaku opik. Sekitar 54 persen responden mengaku mengetahui alasan dibalik tindakan itu tak lain untuk mendongrak performa dan mengejar insentif.
Direktur program INDEF Berly Martawardaya menduga ada beberapa dari 61 persen tersebut merupakan pelaku opik. Pasalnya, tidak mungkin ada responden yang blak-blakan mengakui bahwa mereka pernah melakukan kecurangan atau tidak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Grab Ungkap Trik Perangi Order Fiktif |
Dibanding Gojek, Berly menyebut sikap Grab lebih tegas dalam menegakkan sanksi. Sekitar 64 persen responden menyebut Grab tahu ada order fiktif dan telah memberikan sanksi, sementara 52 persen lainnya menyebut Gojek telah memberikan sanksi atas tindak curang mitranya.
"Empat dari 10 mitra pengemudi percaya bahwa perusahaan tidak bisa mendeteksi order fiktif. Seharusnya tanggung jawab ini diemban oleh penyedia aplikasi ride-hailing dalam memberlakukan sistem keamanan ang lebih ketat untuk memerangi kecurangan," imbuhnya.
"Selain merugikan perusahaan ride-hailing karena insentif bocor, ada masalah juga dengan sesama sopir. Yang jujur jadi susah untuk jujur. Jangan sampai mereka berpikir buat apa jujur kalau santai saja bisa dapat insentif," imbuhnya..
Survei yang dilakukan INDEF ini melibatkan 516 sopir mobil dan motor milik Grab dan Gojek pada 16 April-16 Mei di Jakarta, bogor, Semaran, Bandung, dan Yogyakarta. Metode survei yang digunakan adalah non-probability atau convenient sampling. (evn)