Trump: Bahaya Twitter dan Facebook 'Bungkam' Akun Orang

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 21/08/2018 22:39 WIB
Trump: Bahaya Twitter dan Facebook 'Bungkam' Akun Orang Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: REUTERS/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahaya bagi perusahaan media sosial seperti Twitter dan Facebook apabila membungkam suara layanan mereka.

Dikutip dari Reuters, Trump mengatakan saat ini industri media sosial mengalami peningkatan pengawasan dari kongres, polisi hingga propaganda asing. Trump sendiri telah membuat akun Twitternya yang memiliki 53 juta pengikut sebagai bagian integrasi dan kontroversial dari kepresidenannya.

Dia menggunakan Twitter untuk mengumumkan kebijakan hingga mengkritik. Namun, belum lama ini, yakni pada 18 Agustus, Trump sempat mengkritik industri media sosial.


Dia mengklaim media sosial mengunggah informasi tanpa bukti dalam serangkaian cuitan. Rangkaian cuitan dari perusahaan tanpa nama ini dinilai mendiskriminasi suara Republik/Konservatif.
"Benar-benar mendiskriminasikan suara Republik/Konservatif," ujarnya.

Tweet tersebut mengikuti tindakan yang diambil oleh Apple, Alphabet, YouTube dan Facebook untuk menghapus beberapa konten yang diposkan oleh Infowars, situs web yang dijalankan oleh ahli teori konspirasi Alex Jones. Akun Twitter Jones sendiri untuk sementara ditangguhkan pada 15 Agustus.

"Saya tidak akan menyebutkan nama tetapi ketika mereka mengeluarkan orang-orang tertentu dari Twitter atau Facebook dan mereka membuat keputusan itu, itu benar-benar hal yang berbahaya karena itu bisa jadi Anda besok," kata Trump.

Trump muncul di acara yang diproduksi oleh Infowars, yang diselenggarakan oleh Jones, pada bulan Desember 2015 saat berkampanye untuk Gedung Putih.
Ketika menghapus konten Jones, aplikasi YouTube, Twitter, dan Facebook masing-masing menunjuk pada pelanggaran perjanjian pengguna tertentu. Misalnya, Facebook menghapus beberapa halaman yang terkait dengan Infowars setelah menentukan bahwa mereka melanggar kebijakan tentang perkataan yang mendorong kebencian dan penindasan.

Twitter dan Facebook menolak berkomentar tentang pernyataan Trump. Apple dan Google tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar.

Pada bulan Juli, saat sidang Komite Peradilan Kehakiman, para eksekutif dari Facebook, Google dan Twitter memberi kesaksian bahwa mereka tidak menghapus konten berdasarkan alasan politik.

"Tujuan kami adalah untuk melayani percakapan, bukan untuk membuat penilaian nilai pada keyakinan pribadi," Nick Pickles, ahli strategi senior Twitter, mengatakan pada saat itu. (age/age)