Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Anita Wahid mengatakan malasnya verifikasi dan ditambah dengan fenomena Echo Chamber. Fenomena ini adalah pengguna media sosial berada di lingkungan pertemanan yang berpikiran serupa.
Akibat dari fenomena tersebut yakni ketika ada berita hoaks, seseorang bisa langsung mempercayainya. Pasalnya, mereka sudah menerima validasi berita hoaks dari teman dengan pemikiran serupa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Algoritme media sosial juga telah mengatur agar pengguna media sosial berada dalam satu ruangan yang relevan dengan orientasi pengguna. Media sosial menjadi tempat yang nyaman karena algoritme mengatur konten yang pengguna sukai.
Presidium Mafindo lainnya, Harry Sufehmi mengakui belum ada teknologi yang bisa secara efektif menghilangkan hoaks dari muka bumi.
"Sayangnya bahkan MIT Amerika belum mampu buat teknologi anti-hoaks. Hoaks ini adalah masalah sosial sulit dipecahkan lewat teknologi," tutur Harry.
Lihat juga:Pelaku Hoaks Bisa Dijerat Tanpa Ada Aduan |
"Ada satu riset di Amerika Serikat. Di suatu kumpulan banyak hoaks di grup media sosial tidak butuh banyak usaha untuk basmi hoaks. Hanya butuh satu atau dua orang saja ya rajin mengidentifikasi berita hoaks di grup. Nanti bersih grupnya," tutur Harry. (jnp/age)