Mafindo Siapkan Aplikasi Deteksi Hoaks WhatsApp

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 17/10/2018 07:20 WIB
Mafindo Siapkan Aplikasi Deteksi Hoaks WhatsApp Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mengembangkan teknologi pemeriksa berita hoaks di aplikasi percakapan seperti WhatsApp dan Facebook Messenger.

Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho menjelaskan teknologi ini akan menjadi jembatan antara situs CekFakta dan TurnBackHoaxID dengan aplikasi percakapan. CekFakta dan TurnBackHoaxID adalah kumpulan informasi berbasis data untuk mengklarifikasi berita hoaks yang tersebar di aplikasi percakapan.

"Jadi harapan ke depan ketika suatu grup diskusi, itu dia tersambung dengan data base kami, ketika ada postingan terkait hoaks itu bisa dijawab dengan sistem. Sehingga masyarakat bisa langsung diperingatkan secara sistem kalau informasi itu adalah hoaks," kata Septiaji di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Selasa (16/10).


Teknologi ini akan menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang bisa langsung menentukan berita hoaks yang tersebar di aplikasi percakapan.

Septiaji mengatakan saat ini teknologi masih dalam tahap uji coba. Ia mengatakan teknologi ini dinamakan Whatasapp Hoaks Buster. Ke depannya teknologi ini akan menjadi semakin otomatis dalam penelusuran mendalam untuk menganalisis struktur kata dalam berita hoaks.

"Saat ini dalam tahap testing secara sistem sudah bisa dilakukan , kita bisa kirim konten ke sistem kami melalui WA. Nanti akan ada jawaban dari sistem itu secara otomatis, jadi bukan manusia yang jawab," kata Septiaji.

Ke depannya akan kami senjatai dengan AI sehingga bisa menelusuri struktur kata untuk lebih mudah mencari jawabannya. Septiaji mengatakan saat ini Mafindo sedang melakukan komunikasi dengan pihak aplikator untuk melakukan integrasi teknologi.

"Kami sedang bicara dengan banyak pihak terutama ke aplikator chat, Whatsapp sudah kami sampaikan. Kami harapkan ada respon dan dukungan dari pemerintah supaya sistem ini bisa layak uji coba. Mengingat hoaks itu tersebar masih di chat," tutur Septiaji

Mafindo menemukan selama Juli sampai September 201 terdapat 230 berita hoaks. Platform yang paling banyak digunakan untuk menyebarkan hoaks adalah Facebook (47,83%), Twitter (12,17%), Whatsapp (11,74%) dan Youtube (7,83%). Dari 230 hoaks itu, 58,7% didominasi oleh konten politik dan sebesar 7,39 persen adalah konten agama. (jnp/age)