Facebook Pamer 'Ruang Perang' Kendali Hoaks Jelang Pemilu AS

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 21/10/2018 08:24 WIB
Facebook Pamer 'Ruang Perang' Kendali Hoaks Jelang Pemilu AS Ilustrasi Facebook. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook memamerkan pusat kendali yang disebut sebagai 'ruangan perang' (war room) untuk menjaga keamanan data dan bersih kampanye hitam jelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat, 6 November mendatang.

Baru-baru ini Facebook menunjukkan 'war room' kepada para jurnalis. Ruangan ini merupakan representasi visual untuk menunjukkan komitmen Facebook dalam meningkatkan komunikasi dan keamanan menjelang pemilihan paruh waktu (Midterm Election) Amerika dan Pilpres Brasil.

Ruangan ini merupakan pusat kendali Facebook untuk mengidentifikasi penyebaran berita hoaks dan langsung mematikannya. Facebook mengungkapkan saat ini telah mengerahkan 20 ribu pegawai yang dikombinasi dengan teknologi.


"Pada dasarnya kami telah melakukan banyak perencanaan skenario dan 'permainan perang' secara internal di dalam 'war room' untuk merencanakan berbagai jenis masalah yang bisa terjadi. Kami sudah melatih idenfitikasi dan bagaimana mengambil keputusan dan tindakan," kata Head of Civic Engagement Facebook Samidh Chakrabati. 

'War room' ini akan mulai beroperasi pada jam 4 pagi hingga tengah malam. Mulai minggu depan beberapa perwakilan dari WhatsApp, Instagram hingga tim operasi, teknisi perangkat lunak, data science, hukum, kebijakan, hingga komunikasi akan menempati ruangan ini selama 24 jam.

Grafik dari perilaku pengguna Facebook dan aplikasi lainnya akan ditampilkan. Facebook menggunakan machine learning dan kecerdasan buatan (AI) yang memantau lonjakan grafik  yang menuju ke arah ujaran kebencian, berita palsu yang viral hingga upaya untuk menekan pemilih.

Facebook menyebutkan tujuan perusahaan adalah agar pemilu sebagai pesta demokrasi bisa berjalan adil, ketakutan utama adalah upaya manipulasi pesta demokrasi. Menjelang pemungutan suara Brasil, perusahaan mengidentifikasi upaya untuk menekan manipulasi dan dapat menutupnya dengan cepat.

"Jadi kami dapat mendeteksi bahwa menggunakan AI dan pembelajaran mesin. 'War room' disiagakan. Para ilmuwan data kami melihat ke dalam apa yang ada di belakangnya dan kemudian mereka memberikannya kepada para teknisi dan spesialis operasi kami agar dapat menghapus ini dari platform kami sebelum bisa menjadi viral," tutur Chakrabati seperti dilansir CNBC.

Kepala Keamanan Siber Facebook Nathaniel Gleicher mengingatkan Facebook melihat bertumbuhnya manipulasi debat publik menjelang pemilihan paruh waktu.  Gleicher menduga ada campur tangan dari asing maupun domestik yang menggunakan akun palsu dan bertujuuan untuk menyebarkan berita palsu.

"Sebagian dari alasan kita memiliki 'war room' ini adalah agar ancaman ini berkembang, kita tidak hanya menanggapi mereka dengan cepat, tetapi kami terus mempercepat tanggapan kami, dan membuat tanggapan kami lebih efektif dan efisien," kata Gleicher. (jnp/evn)