Bahkan sering kali, orang terpelajar itu tidak bisa membedakan antara berita hoaks dengan yang valid. Orang yang sudah termakan berita hoaks yang dikemas dan disebar secara masif justru lebih dipercaya dibandingkan berita yang valid.
"Mereka menyebarkan apa pun yang mereka suka. Suka dulu, tidak perlu betul. Bahkan di Pilpres ini kedua pendukung tidak merasa menyebarkan hoaks. Kalau dikasih tahu ini hoaks, mereka tidak percaya." kata Nukman
Kombinasi maut muncul ketika berita hoaks bertemu dengan media sosial, Presidium Mafindo Anita Wahid mengatakan sifat media sosial yang bisa memviralkan konten justru bisa memperbesar dampak berita hoaks.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada dengan Nukman, Anita juga mengakui tidak mudah memberi tahu seseorang terkait berita hoaks apabila orang tersebut menyukai kontennya.
Pada 2018 hingga bulan September, Mafindo mencatat ada 844 berita hoaks yang tersebar. Berita hoaks ini didominasi oleh hoaks berkonten politik.
Oleh karena itu, Anita menegaskan elit politik harus sadar bahwa kemenangan yang diraih dengan menghalalkan penyebaran berita hoaks adalah kekalahan bangsa. Pasalnya ini bertentangan dengan nilai dasar bangsa.
"Mereka harus lebih bertanggung jawab ketika melakukan kontestasi politik dengan memberikan keteladanan dalam menggunakan media sosial secara bijak," kata Anita. (jnp/age)