Bank Pakai Blockchain Atasi Masalah Pembayaran Lintas Batas

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 02:24 WIB
Bank Pakai Blockchain Atasi Masalah Pembayaran Lintas Batas Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank akan memanfaatkan sistem blockchain bernama Interbank Information Network (IIN) untuk mengatasi transfer mata uang di perbatasan. IIN disebut sistem yang lebih efisien bagi bank untuk mengatasi permasalahan lama terkait proses pembayaran yang lambat.

IIN merupakan proyek yang dipimpin JPMorgan Chase, agensi keuangan terbesar di Amerika Serikat. Sistem ini bisa memperpendek waktu proses pembayaran antar bank di negara berbeda yang awalnya memakan waktu dua hari menjadi sekejap saja.

Jaringan ini tidak memiliki fitur yang terlalu menakjubkan seperti chatbot atau robot, namun fungsinya dinilai mampu memberikan penghematan besar pada bank. Proyek ambisius ini memakan biaya hingga US$1,7 miliar atau setara Rp2,5 triliun.
"Tentu saja dari sudut pandang ukuran ekosistem dan produksi dengan memiliki [begitu banyak] bank [berpartisipasi] dalam proyek ini, di mana beberapa di antaranya adalah bank terbesar di dunia, maka ini adalah hal yang besar," kata David Treat, kepala praktik blockchain pasar modal Accenture.


Dia melanjutkan bahwa hingga akhir 2017, proyek ini masih bersifat eksperimental dan prototipe. Produksi masih dalam skala kecil dan aman.

"Apa yang telah kami lihat tahun ini adalah perpindahan ke produksi kehidupan nyata. Dan sekarang yang pertama dari ekosistem-ekosistem tersebut telah digunakan untuk kasus di kehidupan nyata," imbuhnya.

Dia mengatakan bahwa IIN saat ini mungkin masih menjadi satu-satunya sistem di kelasnya. Namun dia yakin status itu tak akan disandang IIN dalam waktu terlalu lama. Dia mengklaim bahwa sistem ini membawa "nilai asli" yang akan memberikan kepercayaan diri bagi para pemimpin di industri perbankan.
Di sisi lain, Umar Farooq, Kepala Blockchain di JPMorgan meyakini bahwa sistem ini dan mungkin produk sejenisnya yang akan dikembangkan di masa depan tak akan terlalu jauh bernarasi tentang penghematan biaya bagi bank.

"Blockchain benar-benar teknologi yang hebat, namun saya tidak yakin bahwa hipotesis awal yang semua orang miliki tentang mengurangi sejumlah besar biaya merupakan titik di mana Anda akan melihat banyak produk baru dikembangkan," kata Umar Farooq.

"Ini akan jauh lebih banyak tentang melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan tanpa teknologi blockchain, menciptakan produk baru. Jika Anda melihatnya murni sebagai mekanisme penghematan biaya maka dia membatasi potensi teknologi," lanjutnya.

Alih-alih berkutat dengan isu penghematan biaya, JPMorgan mengembangkan narasi tentang potensi IIN untuk membantu bank menangkis persaingan dengan start up finansial teknologi (fintech) yang telah mengeksploitasi inefisiensi dalam pembayaran lintas perbatasan untuk menawarkan solusi yang lebih murah dan lebih cepat.
Kemampuan IIN untuk melakukan itu dan apakah dia memiliki dampak nyata di pasar masih harus dilihat ke depan. Namun, JPMorgan memperkirakan bahwa IIN akan menangani lebih dari 300 ribu transaksi dalam sehari. Jumlah ini relatif kecil jika dibandingkan dengan pembayaran lintas batas 14,5 juta yang diproses melalui sistem Swift setiap hari.

Kendati demikian, jumlah transaksi tumbuh secara eksponensial ketika bank-bank baru bergabung dengan IIN. Jaringannya berkembang pesat, dan sekarang memiliki lebih dari 100 anggota.

Dinamika antara IIN dan fintech juga menjadi lebih menarik karena selama bertahun-tahun, bank-bank bersikeras bahwa fintech merupakan teman, bukan musuh. Treat membenarkan bahwa semangat itu hingga kini pada umumnya masih berlaku.

"Jika fintech mengambil sikap agresif terhadap bank, bukan kemitraan dua arah, tentu saja akan ada persaingan besar dan jalan yang sangat sulit. Ada lebih banyak (hubungan bank / fintech) yang sebenarnya berkembang. . . daripada mereka bersaing," kata dia.

Sementara itu, Farooq mengatakan bahwa sementara ini perusahaan fintech belum "terlibat langsung" di IIN. Namun pihaknya secara aktif berpartisipasi dengan fintech di semua bagian bank.

Kesimpulannya, ketidakefisienan dalam sistem pembayaran bank disebut merupakan salah satu masalah yang sulit dihadapi fintech pihak ketiga, karena solusinya memerlukan pengetahuan yang mendalam tentang masalah-masalah itu. Namun, sebagian besar orang di luar fintech tidak akan memiliki pengetahuan itu.

Upaya blockchain besar berikutnya mungkin adalah usaha yang lebih kolaboratif di seluruh bank untuk membagi fintech. (kst/age)