Waspada Beredar Berita Hoaks Hasil Editan

eks, CNN Indonesia | Jumat, 17/05/2019 12:54 WIB
Waspada Beredar Berita Hoaks Hasil Editan Ilustrasi (REUTERS/Regis Duvignau)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat mengimbau agar pengguna internet Indonesia lebih waspada ketika mendapat gambar tangkapan layar mengenai suatu berita. Sebab, menurut mereka tangkapan layar dari suatu situs berita terpercaya yang sudah diedit menjadi judul berita hoaks sulit dibedakan.

Pernyataan ini diutarakan keduanya terkait keriuhan netizen yang membahas soal bagaimana sebuah judul dari sebuah situs berita bisa diedit sesuka hati. Setelah puas mengedit, hasil editan ini bisa ditangkap layar dan dibagikan, seolah-olah itu adalah judul dari situs berita tertentu.

"Capture-nya akan sulit sekali dibedakan dengan aslinya," jelas Alfons Tanujaya, pengamat keamanan siber dari Vaksin.com ketika dihubungi CNNIndonesia.com lewat pesan teks, Jumat (17/5).


Hal senada juga disebutkan pengamat keamanan dari perusahaan keamanan ESET, Yudhi Kukuh. Sehingga menurutnya, ketika pengguna dibagikan tangkapan layar dengan judul yang aneh atau provokatif sebaiknya jangan langsung percaya dan membagikannya kembali.

"Minimal googling (mencari di Google) judul (dulu)," terang Yudhi saat dihubungi terpisah. 

Berita Asli vs Editan yang Diributkan Netizen Sulit DibedakanJudul yang belum diedit (Tangkapan layar via Twitter)
Berita Asli vs Editan yang Diributkan Netizen Sulit DibedakanJudul yang sudah diedit (Tangkapan layar via Twitter)


Tak pengaruhi situs asli

Alfons menyebut kalau cara tersebut hanya bisa dilakukan di peramban lokal yang digunakan di PC atau smartphone, sehingga tidak akan berpengaruh pada judul berita asli di situs berita yang dipalsukan.

"Hanya bisa dilakukan di setiap browser lokal. Jadi server detiknya sendiri tidak diubah," tuturnya.

Namun, hal ini tetap berpotensi berbahaya jika pengguna yang mendapat judul berita palsu itu langsung percaya.
"Kalau orang awam akan mudah percaya jadi memang benar harus hati-hati dan jangan mudah percaya dengan capture screenshot karena mudah dimanipulasi."

Sementara itu, Yudhi Kukuh menyebut kalau mode pengembang yang digunakan untuk mengedit berita tersebut memang menjadi bawaan dari peramban.

Biasanya mode ini digunakan oleh pengembang untuk mengecek apakah kode yang mereka gunakan pada situs yang di peramban tertentu sudah tampil dan bekerja dengan semestinya atau tidak.

Alfons pun menyebut hal ini tidak bisa diantisipasi oleh pembuat situs itu sendiri karena mode pengembang ini sudah menjadi bawaan peramban.

Ia pun tak memungkiri kalau fungsi ini memang sering digunakan untuk tujuan kriminal, misalnya untuk membuat tampilan situs internet banking palsu dengan mengopi kode web yang diambil dari mode pengembang di peramban.

Sebelumnya, jagat media sosial kembali diramaikan dengan cuitan warganet. Kali ini, ada seorang warganet yang mengunggah video cara mengedit judul berita dalam sebuah situs di Twitter.

Akun yang membagikan cara mengedit judul berita itu lantas menyebut cara ini berpotensi untuk dijadikan cara menyebarkan berita hoaks. Sehingga sebaiknya warganet tidak langsung percaya judul berita yang dibagikan lewat tangkapan layar.

Ketika CNNIndonesia.com mencoba langsung, kode pengeditan ini tidak hanya berfungsi dalam situs berita. Semua situs termasuk perbankan bisa ikut dilakukan pengeditan. Sehingga pengguna Internet harus lebih waspada ketika mendapatkan tangkapan layar dari situs apapun.  (eks/eks)