Huawei Jamin Android Tetap Lancar Pasca Larangan Google

CNN Indonesia | Senin, 27/05/2019 14:00 WIB
Huawei Jamin Android Tetap Lancar Pasca Larangan Google Ilustrasi (REUTERS/Sergio Perez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Raksasa Teknologi asal China, Huawei saat ini terjebak dalam perang dagang antara Amerika dan China. Akibat perang dagang ini, beberapa perusahaan besar seperti Google menghentikan dukungan pembaruan Android.

Sub-brand Huawei, Honor tentu juga terkena imbas perang dagang ini. Akan tetapi, PR Manager Honor Indonesia Arya Permana mengatakan pengguna Huawei tidak perlu khawatir soal keberlangsungan sistem operasi di perangkat yang dimiliki saat ini.

Penghentian dukungan pembaruan Android ini membuat pengguna Huawei tak lagi bisa menggunakan beberapa aplikasi besutan Google seperti Google Play Store, YouTube, hingga Gmail.


"Pasti (ada penanganan internal). Dari sisi Huawei akan terus memberikan pembaruan keamanan dan layanan purna jual untuk semua produk smartphone dan tablet Huawei dan Honor yang ada yang mencakup yang telah dijual atau yang masih ada sebagai stok secara global," kata Arya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (24/5).

Arya menegaskan, pihak internal Huawei terus melakukan penanganan untuk menjaga ekosistem yang ada. Arya meyakinkan bahwa pengguna Huawei tetap bisa menggunakan sistem operasi di ponsel Huawei.

"Kalau dari pihak Indonesia kita akan tetap menjaga ekosistem dari pengembangan dan keamanannya. Jadi tidak akan ada misalkan, Oh, sHuaweaya sudah beli tapi bagaimana nih kelanjutannya. Karena di internal kita pun hal-hal seperti itu akan tetap kita jaga," kata Arya.

Sebelumnya, Huawei dikatakan sedang mengembangkan sistem operasi sendiri setelah Google melarang penggunaan Android di perangkat Huawei. Dilansir dari CNBC, Kepada Divisi Konsumen Huawei mengungkap perusahaan dapat memiliki sistem operasi sendiri untuk smartphone dan laptop.

Sistem operasi ini siap digunakan di China pada musim gugur tahun ini. Namun, sumber CNBC tersebut menekankan penggunaan sistem operasi milik sendiri terjadi jika perusahaan sepenuhnya berhenti menggunakan software Google dan Microsoft. (jnp/eks)