Menengok Peluang Trade War untuk Industri Indonesia

Advertorial, CNN Indonesia | Kamis, 15/08/2019 00:00 WIB
Menengok Peluang Trade War untuk Industri Indonesia Trade war (Foto: dok. Virtus Technology Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah sukses diadakan di Surabaya, Bali, dan Yogyakarta, kali ini penyedia solusi infrastruktur TI dan anak perusahaan CTI Group yakni Virtus Technology Indonesia kembali menggelar Virtus Showcase 2019 di kota Jakarta. Ini menjadi tahun keenam Virtus Technology Indonesia mengadakan konferensi yang membahas tentang tren dan isu-isu seputar IT terbaru.

Tahun ini, Virtus Showcase Jakarta secara khusus mengangkat tema 'Impact of Trade War to the adoption of Industry 4.0' dan dilangsungkan di Hotel Mulia, Jakarta Selatan. Konferensi ini dihadiri ratusan professional dari berbagai industri untuk membahas bagaimana dampak dan apa yang harus dilakukan di tengah panas dinginnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang masih terus berlanjut sampai saat ini terhadap adopsi teknologi di dalam negeri untuk mendukung pengembangan industri 4.0.

Hal ini bermula pada April 2018 lalu saat AS mengenakan tarif sebesar 25% atas impor senilai US$50 miliar dari Tiongkok dan secara sepihak memicu perang dagang dan berdampak secara global termasuk Indonesia. Ini menimbulkan kegalauan dan kebingungan bagi pelaku industry di Tanah Air dalam memilih teknologi mana yang dapat mendukung industry mengadopsi industri 4.0 secara umum dan transformasi digital secara spesifik. Oleh karena itu, salah satu langkah yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan daya saing industri Indonesia agar bisa lebih kompetitif dengan negara-negara tetangga, dengan memberikan saran akan teknologi mana yang paling tepat untuk mendukung transformasi digital dalam Virtus Showcase 2019.


"Indonesia saat ini menjadi perhatian bagi pelaku usaha dunia sebagai salah satu negara yang serius dalam mengembangkan perekonomian digital. Sehingga perkembangan teknologi di negara kita harus terus menerus kita pacu. Kita bisa melihat di tahun 2017, menurut studi dari Microsoft bahwa sekitar 4% produk domestik bruto Indonesia berasal dari produk dan layanan digital seperti mobility, cloud computing, Internet of Things, dan artificial intelligence," ujar Direkur PT. Virtus Technology Indonesia, Christian Atmadjaja.

"Perdebatan akan teknologi mana yang paling cocok untuk mendukung transformasi salah satu tujuan dari Virtus Showcase 2019 ini, di mana 'trade war' diharapkan tidak menunda percepatan perkembangan digital di Indonesia. Sehingga di saat muncul konflik global Trade War ini, Indonesia tetap fokus pada tujuan dan inovasi, dan tidak menjadikan pemilihan teknologi sebagai kendala namun sebagai pemicu untuk terus maju paling depan," lanjutnya.

Berdasarkan riset Google dan Temasek, pasar ekonomi digital di Indonesia mencapai US$27 miliar dan berpotensi meningkat menjadi US$100 miliar pada 2025. Dari aliran investasi asing per tahun di level US$20 miliar-US$25 miliar, diperkirakan 10%-nya disumbang dari sektor ekonomi digital. Oleh karena itu, sejak lima tahun terakhir infrastruktur ekonomi digital mulai disiapkan dengan matang bersama-sama dengan negara lain.

"Sejumlah besar perusahaan mengalami transformasi digital di seluruh dunia. Tiga tren teknologi informasi yang saat ini sedang meningkat di Indonesia adalah pertama, data menjadi mata uang baru. Kedua, semakin banyak model platform baru akan mengambil alih saluran tradisional. Terakhir, pertumbuhan perusahaan sekarang sangat tergantung pada cloud computing. Karena itulah Dell EMC menyederhanakan IT dengan menyatukan komputasi, penyimpanan, jaringan, dan perlindungan data dalam sistem yang sepenuhnya direkayasa dan desain yang tervalidasi untuk menunjang infrastruktur IT di Indonesia," kata Infrastructure Director of Dell EMC Indonesia, Adir Ginting.

Virtus Showcase 2019 menghadirkan Prof. Rhenald Kasali sebagai pembicara utama yang mengupas dampak dan peluang perang dagang US-Tiongkok bagi Indonesia. Selain itu, Adir Ginting dari Dell EMC yang juga membawakan materi tentang Digital Organization Powered by Data & Multi Cloud. Ada juga Dhany Kurniawan dari Check Point Indonesia yang menjelaskan mengenai The Zero Trust Approach dalam mengamankan pelaku industri dari Cyber Trap dan E. Wiryadi Salim Dari Huawei Enterprise yang membahas tentang Building the Foundation for the Digital World.

"Kami turut bersemangat bisa menjadi bagian dari Virtus Showcase 2019 ini. Kita lihat bagaimana saat ini infrastruktur digital terus menerus berkembang. Namun, dari sisi lain justru menimbulkan tantangan keamanan. Tidak ada lingkungan yang kebal terhadap serangan siber. Pelaku ancaman terus mengembangkan perangkat dan teknik baru, menargetkan aset perusahaan yang tersimpan di infrastruktur cloud, aplikasi third-party, dan bahkan platform email. Itu adalah hasil riset dari tim Check Point Security sendiri dan kami menyadari betul hal tersebut. Oleh karena itu, kami menyediakan solusi terintegrasi dengan Architecture Check Point Infinity untuk memberikan jaminan keamanan bagi pengguna kami," ujar Country Manager Check Point, Dhany Kurniawan.

"Indonesia bisa dikatakan masih dalam tahap awal dalam era transformasi digital ini. Agar tetap dapat bersaing, kita perlu memprioritaskan pengembangan infrastruktur TIK, terutama konektivitas pita lebar dan adopsi cloud ke tingkat strategis dalam perencanaan ekonomi untuk mengaktifkan sumber daya lokal dan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan. Bagi Huawei sendiri, kami menekankan konsep Intelligent Connectivity yang tentunya akan bergantung pada berbagai faktor seperti dukungan regulasi pemerintah, transformasi digital perusahaan, inovasi bisnis dan teknologi, serta ekosistem digital," kata Senior Solution Manager Huawei Enterprise, E. Wiryadi Salim.   (adv/adv)