Efek Trade War bagi Teknologi Industri Indonesia

Advertorial, CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 00:00 WIB
Efek Trade War bagi Teknologi Industri Indonesia Rhenald Kasali selaku pembicara utama dalam Virtus Showcase 2019 (Foto: CNN)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Virtus Technology Indonesia menggelar Virtus Showcase 2019 dengan mengangkat tema 'Impact of Trade War to the adoption of Industry 4.0' yang berlangsung di Hotel Mulia, Jakarta pada Kamis (15/8/2019). Menghadirkan Rhenald Kasali sebagai pembicara utama, konferensi ini turut dihadiri para profesional dari berbagai industri di Indonesia.

Direktur PT Virtus Technology Indonesia, Christian Atmadjaja, mengatakan bahwa tujuan Virtus Showcase sendiri untuk memberikan update tentang apa yang sedang terjadi di dunia IT. Baik tentang kondisi maupun teknologi terbaru yang berpengaruh nantinya terhadap pengambilan keputusan suatu perusahaan.

"Sebenarnya yang mau kita sampaikan dari Virtus Showcase tahun ini adalah kami ingin memberikan arahan atau guidance kepada customer untuk bisa memanfaatkan teknologi apa yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan mereka di tengah-tengah kebingungan perang dagang saat ini," ucap Christian.


Pada presentasinya, Christian juga mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan di dunia, khususnya Indonesia sedang melakukan transformasi digital. Menurutnya, adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China justru menjadi alasan untuk terus memicu perkembangan teknologi informasi di Indonesia. Apalagi acara Virtus Showcase memang sengaja ditujukan untuk mendukung transformasi tersebut dengan menawarkan berbagai teknologi digital terbaru yang dapat digunakan.

Dampak perang dagang AS dan Tiongkok ke PT Virtus Technology Indonesia sendiri pun terasa walau tidak signifikan. "Karena kami tidak hanya terpaku pada teknologi dari salah satu pihak. Solusi dan produk teknologi kami cukup luas, tidak hanya mereka yang terlibat, dan masing-masing solusi IT tersebut memiliki kelebihannya sendiri-sendiri,"kata Christian.

Adapun menurut Rhenald Kasali, perang dagang sebenarnya sudah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi dalam era teknologi dengan enam pilar, maka mobilisasi dan orkestrasi menjadi penting dan trade war akan semakin banyak dalam sehari-hari. Hal ini juga menuntut perusahaan untuk lebih mempelajari teknologi yang akan mengubah kehidupan di masa yang datang.

"Perusahaan pun mengalami.  Apa yang kita pelajari beberapa tahun lalu, sekarang tidak relevan lagi. Misalnya kemunculan Platform yang berbeda dengan standalone company karena pentingnya tekonologi yang mengubah masa depan," ucap Rhenald.

Rhenald mencontohkan gerakan tagar yang sangat sering terjadi di era ini. Menurutnya, ini adalah bagian dari perang dagang yang terjadi antar perusahaan dengan menggunakan teknologi. Lebih singkatnya ia menjelaskan bahwa technology is a mass.

Pada sesi kedua Virtus Showcase, acara dibagi dalam dua track session. Track A menghadirkan Aditya Kurniawan dari DellEMC yang berbicara tentang  'Intelligent Edge for Your Digital Future', David Mulyadi dari Huawei berbicara tentang 'Building All-Scenario Intelligent Computing Solutions', dan Frederic Yolanda dari VMWare berbicara tentang 'SDDC: Building a Strong Digital Foundation for Your Industry 4.0 Transformation'.

Adapun Track B menghadirkan Wahyu Pamungkas dari Check Point Indonesia berbicara tentang 'Maestro: Hyperscale Network Security', Elaine Loo dari MicroFocus berbicara tentang 'Application Security at the Speed of DevOps', dan Yuan Ye (Wild) dari HIKVision berbicara tentang 'How to Prevent Business Risk by Effective Visual Management'. (adv/adv)