Kominfo Akui 'Salah Tangkap' Cuitan Soal Hoaks Asrama Papua

CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 17:38 WIB
Kominfo mengakui telah salah menangkap layar atas cuitan yang dinyatakan disinformasi dalam laporan hoaks terkait kasus kerusuhan di Papua Senin (21/8) lalu. Ilustrasi (REUTERS/Regis Duvignau)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menanggapi protes dari Pengacara HAM Veronica Koman. Veronica melayangkan protes setelah cuitan Twitter yang ada di akunnya ditangkap layar oleh Kominfo dan diberi cap hoaks.

Plt. Kepala Biro Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu menyatakan kekeliruannya dalam menampilkan tangkapan layar tersebut. Sebab, pada dasarnya bukan cuitan Veronica yang menyebarkan disinformasi. Tetapi, cuitan tersebut disalahgunakan oleh beberapa akun anonim yang menambahkan kata 'penculikan' dari cuitan akun Twitter Veronica.

"Memang kekeliruan kami itu adalah harusnya yang kami capture adalah akun yang menggunakan kata penculikan, yang menyertakan cuitan mbak Veronica," kata Ferdinandus saat dihubungi, Selasa (20/8).



Dalam laporan berita hoaks terkait rusuh Papua, Kemenkominfo hanya menyertakan gambar cuitan asli Veronica. Kominfo tidak menyertakan tangkapan layar dari akun-akun anonim yang membumbui cuitan Veronica dengan kata 'penculikan.'

"Jadi dasarnya adalah cuitan Mbak Veronica lalu ditambahi kata-kata yang berkaitan dengan penculikan mahasiswa di Papua," lanjutnya.

Ia kemudian mengakui bahwa cuitan Veronica sesuai fakta karena memang ada dua mahasiswa pengantar makanan dan minuman yang ditangkap oleh polisi.

Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen
"Bahasa itu yang dibantah kepolisian bahwa bukan penangkapan melainkan permintaan keterangan. Makanya kami masukkan di link itu. Polisi membantah penangkapan dan penculikan," kata Ferdinandus.

Ia mengatakan polisi sesungguhnya mempermasalahkan kata 'penangkapan' juga. Polisi lebuh menyukai kata 'dimintai keterangan'.

"Polisi membantah penangkapan dan penculikan. Mereka benar memintai keterangan tapi kemudian dilepas setelah pengambilan keterangan selesai. Ini terminologi bahasa," katanya.

Sebelumnya, Veronica memprotes Kemenkominfo setelah salah satu cuitannya dicap sebagai hoaks berkategori disinformasi.

Cuitan tersebut berisi dugaan penangkapan dua orang mahasiswa yang mengantarkan makanan untuk penghuni asrama mahasiswa Papua di Surabaya yang dikepung oleh Polres Surabaya.

"Tweet saya tidak menyebutkan bahwa 2 pengantar makan tersebut diculik, namun ditangkap. Saya bicara berdasarkan definisi KUHAP. Bahkan 2 orang tersebut menandatangani BAP. Apa itu namanya bukan ditangkap," kata Veronica dalam sebuah cuitan, Senin (19/8).

Sebelumnya, Kemenkominfo melaporkan temuan hoaks berjudul 'Polres Surabaya menculik Dua Orang Pengantar Makanan untuk Mahasiswa Papua'.

Hoaks berjenis disinformasi ini berisi kabar adanya dugaan penculikan dua orang mahasiswa karena mengantarkan makanan untuk penghuni asrama mahasiswa Papua yang dikepung yang oleh Polres Surabaya.

Namun, Kasat Intel Polrestabes Surabaya AKBP Asmoro membantah terjadinya penculikan. Ia menjelaskan, kepolisian hanya mewawancarai dan memeriksa kedua orang tersebut.

[Gambas:Video CNN] (jnp/eks)