Head of Content Marketing Moka Hilman Desfakhrian menjelaskan influencer lokal bisa dimanfaatkan untuk menarik perhatian pengguna di tiap-tiap wilayah influencer tersebut berdomisili.
Bagi Hilman, setiap wilayah di Indonesia memiliki keunikan masing-masing. Oleh karena itu, Moka menyentuh (tap in) pasar dengan menggunakan mikro dan nano influencer masing-masing wilayah. Tentunya setiap influencer memiliki fokus konten yang berbeda-beda menyesuaikan wilayah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nano influencer adalah influencer yang memiliki yang pengikut di bawah 20 ribu. Kemudian ada yang disebut micro influencer untuk influencer dengan pengikut 20 ribu sampai 100 ribu.
Lihat juga:Menerka Pecah Gelembung Startup Berikutnya |
Di sisi lain, Moka menganut model bisnis B2B sehingga Moka tak perlu terlalu jor-joran mengeluarkan uang untuk menyewa influencer kelas premium atau makro.
Jika sudah memiliki di atas 100 ribu pengikut, maka influencer masuk kategori macro influencer. Kalau sudah di atas satu atau dua juta follower, influencer disebut premium influencer.
Moka merupakan startup berbasis teknologi yang bergerak di bidang point of sales. Aplikasi Moka Pos melalui iOS dan Android digunakan untuk kasir, baik merchant online maupun offline. Oleh karena itu, aplikasi bisa membantu pemilik bisnis dalam mengakses data, seperti laporan penjualan, persediaan, dan komplain dari customer secara langsung.
Saat ini Hilman mengatakan Moka telah memiliki 25 ribu merchant rekanan di seluruh wilayah Indonesia.
"Sekarang kami ada 25 ribu merchant. Seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tapi kami pasti target besar untuk tingkatkan jumlah merchant terus terusan," ujarnya.
Selain Mokapos, startup di layanan medtech (medical technology/ teknologi medis) Halodoc mengklaim menggunakan 500 influencer setiap bulan. Akan tetapi, tidak semuanya berkelas premium. Salah satunya dengan memakai jasa influencer di berbagai universitas di Indonesia.
"Kalau Halodoc sendiri kita hampir 500 influencer per bulan. Tapi, semuanya bukan selebriti. Kita pakainya lebih banyak nano dan micro influencer," kata Vice President Marketing Halodoc Felicia Kawilarangsaat perhelatan Tech In Asia Conference 2019 di Jakarta, Selasa (8/10).
Lihat juga:Menerka Pecah Gelembung Startup Berikutnya |
"Maksimal kita kasih mereka 100 ribu untuk posting. Ketika Anda berpikir pakai influencer pasti berpikir berapa juta, ratusan juta, untuk posting-nya," ujar Felicia.
Menurut Felicia diversifikasi pemilihan influencer penting. Jangan mengambil 100 influencer yang berasal dari kalangan artis semua. Tapi bisa dikombinasi seperti 20 artis dan 300 lainnya dengan nano dan mikro.
"Saya tidak pikir selebriti sudah tidak penting. Tapi itu tergantung pada objektifnya. Jadi, influencer yang namanya sudah gede penting. Karena reach-nya lebih banyak, dan pasti banyak orang yang melihat artis," katanya. (jnp/age)