Sebab, menurut Miftah, korporasi atau penyedia platform media sosial merupakan pihak yang berada di garis depan untuk menghadapi serangan siber.Sebelumnya, RUU KKS memang telah batal disahkan pada periode DPR 2014-2019.
"Sangat perlu melibatkan korporasi dan akademisi. Sistem mitigasi yang paling depan itu korporasi, bukan pemerintah. Pemerintah akan tahu, paling di belakang. Penyedia platform itu adalah korporasi dan mereka yang tahu bagaimana cara membuat platform-nya, kata Miftah saat ditemui usai diskusi Indonesia Internet Governance, di Jakarta, Rabu (9/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Miftah menjelaskan RUU KKS ini harus bisa fleksibel mengikuti sektor digital yang terus mengalami perubahan. Oleh karena itu, aturan KKS harus menyesuaikan perkembangan teknologi di masa depan agar aturan tetap bisa sesuai dengan perkembangan tersebut.
"Yang mengetahui secara teknis teknologi seperti apa itu korporasi, pemerintah, orang-orang di policy maker itu tidak tahu bagaimana teknologi berkembang. Bagaimana cara menghadapi teknologi yang berubah," kata Miftah.
"Karena untuk memahami teknologi tidak bisa hanya dari praktik saja. Tetapi secara keilmuannya itu seperti apa," katanya. (jnp/eks)