Perusahaan telah menghadapi gempuran kritik dari Kongres, kandidat presiden dari Partai Demokrat, media, bahkan karyawannya sendiri.
Awal pekan lalu, CEO Twitter Jack Dorsey mengumumkan perusahaannya akan berhenti menjalankan bisnis iklan politik sepenuhnya. Pernyataan itu dianggap semakin menyudutkan Facebook, sampai akhirnya disadari bahwa penghentian iklan politik juga berarti menghambat kelompok advokasi dan aktivis bernada sosial untuk beriklan di platform tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Cara Deteksi Ponsel yang Terjangkit Spyware |
Kontroversi iklan politik di sejumlah platform digital bermula ketika Donald Trump menciptakan iklan berita bohong saat kampanye pemilihan kembali Presiden Amerika Serikat (AS).
Menanggapi hal itu, juru bicara YouTube mengatakan kepada CNN bahwa iklan tidak melanggar aturan.
"Kami tidak memiliki pengecualian khusus untuk iklan politik, semua iklan yang berjalan di platform kami harus mematuhi kebijakan iklan kami, dan semua iklan politik termasuk dalam Laporan Transparansi dan Perpustakaan Iklan kami," kata juru bicara YouTube seperti dikutip CNN.
Pernyataan juru bicara itu mengacu pada kebijakan iklan Google, yang tampaknya juga berlaku untuk YouTube.
Bagian dari kebijakan itu berbunyi: 'Kami tidak ingin pengguna merasa disesatkan oleh iklan, jadi kami berusaha untuk memastikan iklan itu jelas dan jujur, serta memberikan informasi yang diperlukan pengguna untuk membuat keputusan berdasarkan informasi. Kami tidak mengizinkan iklan atau tujuan yang bermaksud menipu pengguna dengan mengecualikan informasi yang relevan atau memberikan informasi yang menyesatkan tentang produk, layanan, atau bisnis'.
CNN meminta juru bicara YouTube beberapa kali untuk menjelaskan alasan iklan Trump palsu yang menyerang Biden tidak melanggar aturan. Namun, Juru bicara itu tidak memberikan jawaban.
Dalam perkembangannya, Google dilaporkan sedang mempertimbangkan perubahan kebijakan tersebut. Terkait hal itu, CNN masih berupaya menghubungi Google untuk memberikan komentar. (cnn/lav)