Sejarah Suburnya Hoaks Saat Pandemi Baru

CNN Indonesia | Selasa, 21/07/2020 12:17 WIB
Epidemiolog merespons musisi Anji yang menilai virus corona Covid-19 tak terlalu menakutkan seperti yang dibayangkan. Ilustrasi (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Musisi Erdian Aji Prihartanto alias Anji baru-baru ini membuat kontroversi dengan mengomentari sebuah foto korban meninggal dunia virus corona Covid-19 karya pewarta foto Joshua Irwandi. Tak hanya itu ia juga mengatakan bahwa SARS-CoV-2 tak terlalu menakutkan seperti yang dibayangkan.

Anji pun sempat menimbulkan kontroversi terkait anjuran jangan menggunakan masker saat berolahraga. Sayangnya, analisa yang terkesan menggurui tersebut dipercaya oleh basis fans Anji.

Analisis Anji ini kemudian mendapat respons dari Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman. Dicky mengatakan penyakit baru menimbulkan berbagai penyangkalan.


"Sejarah mencatat hoaks, teori konspirasi, penyangkalan dan xenophobia tumbuh subur di saat ada penyakit baru," kata Dicky kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/7).

Hal ini timbul akibat timbulnya dampak yang sangat besar pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat dalam jangka panjang. Selain itu ada sebagian orang yang merasa terancam baik kebebasan atau pun kenyamanan.

Studi literatur membuktikan bahwa dalam setiap pandemi mulai dari Smallpox di era Romawi, flu spanyol 1918 dan SARS tahun 2003 tidak semua orang akan merespon secara rasional dan berbasis sains.

Dicky menjelaskan sebagian kelompok masyarakat dan juga pemerintahan akan merespon dalam bentuk penyangkalan, kepanikan, ketakutan dan bila sudah berlalu dengan baik baru akan masuk tahap respons secara rasional.

"Penyangkalan, panik dan takut ini adalah warisan respons yang diturunkan nenek moyang kita, namun respons rasional berbasis sains  semakin berkembang seiring majunya daya nalar kritis manusia," kata Dicky.

Dicky menjelaskan satu fakta ilmiah dan sejarah pandemi menunjukkan bahwa setiap penyangkalan atau pengaburan informasi malah membuat timbulnya kepanikan dan memburuk seiring menurunnya kepercayaan.

"Penyangkalan tidak akan menghilangkan pandemi, malah sebaliknya, pandemi akan memburuk. Persis seperti penyangkalan terhadap  vaksin dan perubahan iklim," tutur Dicky.

Lebih lanjut, Dicky menjelaskan pandemi Covid-19 sebagai penyakit baru yang mewabah secara global ini masih menyimpan banyak misteri dan ketidakpahaman manusia terkait berbagai hal.

Mulai dari asal-usulnya, mekanisme penularan secara detail, apa akibat pada tubuh, pemulihan seperti apa yang akan terjadi dan bagaimana membunuhnya.

"Sehingga semua ketidakjelasan ini membuat umumnya manusia makin panik terutama pada kelompok yang merespon dalam bentuk penyangkalan, dan tidak mau menerima informasi yang berdasar fakta ilmiah," kata Dicky.

Orang yang Menyangkal Covid-19 dari Sisi Sains

Dicky mengutip Profesor Naomi Oreskes yang merupakan peneliti perilaku manusia dari Harvard. Anatomi mengatakan bahwa tipe orang penyangkal pandemi Covid-19 masuk dalam kelompok Implicatory Denial.

Implicatory denial adalah orang-orang yang menyangkal covid-19 ini adalah tipe orang yang menyangkal fakta ilmiah karena mereka tidak suka implikasinya, bukan tidak percaya sains.

Buktinya mereka tetap ke dokter, tetap mandi atau menjaga kebersihan pribadi, beberapa bahkan berpola hidup sehat.

"Ini temuan penting karena artinya kita  jangan meyakinkan mereka dengan lebih banyak fakta ilmiah, tapi dengan membuka wawasannya tentang solusi yang bisa diambil dan bagaimana meminimalkan implikasinya," tutur Dicky.

Di sisi lain, Dicky mengatakan influencer berperan penting untuk mengatasi isu penyangkalan ini. Influencer ini bisa dari para pakar, tokoh dan figur publik

"Satu hal yang pasti terjadi dalam setiap pandemi adalah, jika para ilmuwan tidak terus menerus memberi informasi yang tepat & benar maka banyak orang akan mati dan mengalami dampak buruk dalam jangka panjang. Sehingga para ilmuwan punya tanggung jawab moral untuk berbicara yang sesungguhnya," kata Dicky.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]