Alasan China Tetap Buat Vaksin Meski Sudah Kalahkan Covid-19

CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 16:41 WIB
China diklaim berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 tanpa vaksin, namun masih tetap memproduksi dan menawarkan vaksin ke negara lain. Ilustrasi vaksin Covid-19 China. (AFP/NOEL CELIS)
Jakarta, CNN Indonesia --

China diklaim berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 tanpa menggunakan vaksin. Keberhasilan ini tak menghentikan usaha pemerintah China untuk terus menciptakan vaksin Covid-19.

Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain LIPI, Wien Kusharyoto mengatakan China terus berupaya menghasilkan vaksin Covid-19 untuk menyebarkan pengaruhnya di seluruh dunia.

"Tiongkok mungkin ingin meningkatkan pengaruhnya terhadap beberapa kawasan dalam aspek ekonomi maupun politik, yang diharapkan dapat diperoleh pula dengan vaksin," kata Wien saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (16/9).


Saat ini Indonesia bahkan menyatakan minatnya untuk bekerja sama dengan tiga perusahaan asal China untuk memproduksi vaksin dalam negeri, ketiga perusahaan itu adalah Sinovac Biotech, Sinopharm, dan CanSino.

Dihubungi terpisah,  Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo mengatakan bentuk China terus mengupayakan penemuan vaksin Covid-19 meski dinilai berhasil mengendalikan pandemi adalah agar pandemi bisa berakhir di seluruh dunia.

Sebab meski mampu mengendalikan, China masih belum aman dari pandemi Covid-19 apabila negara-negara lain masih belum mampu mengendalikan pandemi Covid-19.

"Terlepas dari motivasi dibalik jualan, saya pikir semua dunia harus bebas Covid-19. Jadi percuma kalau hanya China saja yang relatif bebas sementara tetangganya banyak bermasalah," ujar Ahmad.

Sinovac dan Sinopharm mengembangkan vaksin inaktivasi, sementara CanSino mengembangkan vaksin dari virus yang dilemahkan. Ahmad mengatakan pengembangan virus inaktivasi ini memerlukan akses ke isolat virus.

"Dan harus punya sistem kendali mutu yang ketat supaya proses inaktivasi virus dijalankan dengan baik. Tapi apapun platform nya tidak bisa buru-buru terutama sisi keamanan dan efektivitas dan itu perlu waktu, kata Ahmad.

Di sisi lain, dalam pengembangan virus inaktivasi Wien mengatakan virus SARS-CoV-2 harus dikultur dengan menggunakan sel mamalia, misalnya dari monyet.

Selain itu proses kultur juga harus dilakukan di laboratorium dengan level keamanan hayati BSL-3 (biosafety level-3). Setelah itu virusnya harus di inaktivasi da harus dijamin bahwa seluruh virusnya benar-benar telah inaktif.

"Pada vaksin dari virus yang di inaktivasi, perlu dipastikan bahwa tidak muncul efek vaccine induced disease enhancement, efek ketika seseorang yang divaksinasi dan kemudian terinfeksi oleh virusnya. Penyakit yang kemudian muncul justru lebih parah daripada penyakit yang diderita oleh orang yang tidak divaksinasi," ujar Wien.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]