Pakar Ungkap Big Data dan AI Harus Mulai Dipakai UMKM RI

CNN Indonesia | Kamis, 26/11/2020 20:39 WIB
Pakar mengungkapkan bahwa UMKM dan startup di Indonesia masih belum sadar pentingnya big data dan teknologi AI untuk perusahaannya. Ilustrasi big data dan teknologi AI. (Istockphoto/metamorworks)
Jakarta, CNN Indonesia --

Maha data (big data) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak hanya penting untuk perusahaan besar yang sudah mengumpulkan data sejak 5 hingga 10 tahun terakhir. Namun Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) hingga perusahaan rintisan atau startup juga perlu.

Data Driven Transformation for businesses Rosebay Group, Aaja Baruwal, mengatakan di Indonesia masih banyak UMKM yang merasa big data dan AI tidak relevan bagi mereka. Pasalnya pelaku UMKM merasa perusahaan mereka baru saja dibentuk dan masih memiliki sedikit sekali data tentang konsumen.

"Padahal teknologi AI bisa melakukan melakukan prediksi hingga rekomendasi tentang perilaku konsumen. Jadi, siapapun bisa mendapatkan keuntungan dengan AI," katanya lewat keterangan tertulis, Kamis (26/11).


Selain Indonesia, Aaja mengatakan perilaku UMKM yang belum sadar pentingnya peran AI dan big data untuk bisnis mereka juga terjadi di Vietnam dan Kamboja.

Founder dan Executive Chairman Rosebay Group Rohit Kumar mengatakan, data yang dipadukan dengan kecerdasan buatan akan menjadi data pintar (smart data). Smart data itu lah yang akan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan.

Mulai dari mengurangi risiko diambilnya keputusan yang salah, efisiensi, rekomendasi, hingga pemasaran.

"Dengan data, kita bisa mengirim iklan SMS atau email ke konsumen. Dibantu kecerdasan buatan, kita bisa menentukan apakah iklan SMS dan email tersebut benar-benar terkirim sesuai ke konsumen yang sesuai," ujar Rohit.

Rohit mengaku di Indonesia sendiri big data adalah wilayah baru. Begitu juga dengan teknologi AI. Padahal, kebutuhan akan smart data sangat tinggi.

"Di Indonesia ada banyak peluang untuk mengolah data dengan baik. Karena banyak perusahaan yang masih mengolah datanya secara manual," ujar Rohit.

Adapun teknologi artificial intelligence saat ini hanya digunakan oleh perusahaan e-commerce atau perbankan besar. Rosebay, kata dia, ingin agar big data dan AI ini bisa lebih merata hingga ke UMKM dan startup.

"Kami ingin mewujudkan lebih banyak lagi perusahaan yang berorientasi pada data (data driven organization) dalam menjalankan bisnis mereka," ujarnya.

Cara Beralih ke Big Data dan AI 

Lebih lanjut, Rohit menyebut ada beberapa hal yang harus dilakukan saat perusahaan berencana mengadopsi big data dan AI ke dalam struktur organisasi mereka.

"Pertama, departemen IT harus bisa mengkomunikasikan dampak adopsi teknologi baru seperti big data dan AI terhadap bisnis kepada manajemen C-level di perusahaan," ujar Rohit.

Kedua, awali dengan project-project kecil yang bisa memberikan hasil positif, sebelum akhirnya melakukan perubahan besar terhadap perusahaan. Ketiga, Rohit menyebut bahwa adopsi teknologi dilakukan secara bertahap diiringi analitik sebagai bagian dari prosesnya.

"Hindari transformasi tunggal. Sebagian besar perusahaan IT/konsultan lebih suka Anda melakukan investasi besar tunggal karena mereka akan dibayar lebih banyak. Kami tidak merekomendasikan pendekatan ini," bebernya.

(dal/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK