BMKG: Meredupkan Matahari Ide Jadul, Perlu Kajian Lingkungan

CNN Indonesia | Kamis, 03/12/2020 09:39 WIB
BMKG merespons peneliti Afrika Selatan yang akan meredupkan Matahari lewat atmosfer Bumi untuk kurangi dampak pemanasan global. Ilustrasi meredupkan matahari. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merespons soal wacana meredupkan Matahari untuk mengurangi dampak pemanasan global.

Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto menjelaskan perlu adanya kajian dampak positif dan negatif dari selimut sulfur dioksida (SO2) yang akan digunakan untuk memantulkan kembali cahaya Matahari.

"Apabila sebatas rekayasa dalam sebuah simulasi model komputer, itu tidak apa-apa. Kita perlu memahami dampak positif dan negatif dari selimut SO2 di stratosfer ini, baik kepada iklim di bumi maupun dampak lingkungan dan kesehatan umat manusia di Bumi," kata Siswanto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (1/12).


Siswanto menyatakan sebelum wacana itu gegabah apabila diterapkan sebelum adanya pemahaman dan bukti dampak sulfur dioksida kepada lingkungan maupun manusia.

"Pemahaman dan bukti itu belum didapatkan secara utuh, baik secara pengkajian saintifik maupun pengkajian etik-estetik, maka praktik atau penerapannya bisa dianggap tindakan yang gegabah," tutur Siswanto.

Siswanto menjelaskan secara alami, SO2 dilepaskan oleh letusan gunung api. SO2 yang dilepas gunung api merupakan gas aktif kimiawi paling produktif dan mudah teroksidasi menjadi asam sulfat dalam keadaan normal setelah beberapa minggu.

Ini tentunya akan mempengaruhi hujan yang diturunkan dari langit, sehingga memperbesar tingkat keasaman hujan. Padahal hujan asam berdampak bisa menyebabkan kerusakan tanah, kerusakan daun dan tumbuhan, perubahan pH air permukaan dan air tanah, dan dampak negatif bagi lingkungan lainnya.

"Belum juga efek terhadap kesehatan dan kualitas udara. Apabila SO2 yang disuntikkan ke lapisan stratosfer oleh dinamika cuaca nantinya bocor ke lapisan troposfer di mana manusia tinggal, maka ini juga membahayakan kesehatan pernafasan, karena SO2 ini juga termasuk partikel polusi udara," kata Siswanto.

Siswanto mengungkap saat ini para ahli iklim dan kimia atmosfer juga sudah banyak yang melakukan riset untuk membuat selimut stratosfer dengan partikel yang lebih sedikit sifat racunnya.

Misalnya partikel injeksinya diganti dengan partikel kecil garam, atau lainnya yang lebih aman.

"Ini semua tetap harus dikaji secara saksama sebagai upaya potensial untuk melakukan rekayasa iklim untuk bumi yang lebih baik, tetapi juga Bumi yang lebih selamat," kata Siswanto.

Melihat sejarah, Siswanto mengatakan naik turun temperatur Bumi dan perubahan iklim sebelum abad ke-20 dipengaruhi oleh aktivitas gunung berapi yang menghasilkan SO2.

Beberapa gunung di Indonesia sangat terkenal dalam ilmu perubahan iklim, di antaranya adalah Gunung Tambora, Gunung Krakatau, hingga Gunung Agung.

Jumlah SO2 yang tinggal di lapisan atmosfer memberikan pengaruh yang signifikan terhadap iklim untuk suhu Bumi dan intensitas hujan.

Semua letusan besar gunung berapi bersejarah telah membentuk aerosol asam sulfat di lapisan stratosfer bawah yang mendinginkan suhu permukaan bumi 0,5 derajat celsius selama kurang lebih 2 hingga 3 tahun setelah letusan besar.

SO2 ini mendinginkan planet ini dengan dua cara, secara langsung dan tidak langsung. Cara langsung adalah ketika sulfur dioksida dioksidasi lebih lanjut di atmosfer, ia dapat membentuk partikel yang memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa.

Cara tidak langsungnya, partikel SO2 dapat bertindak sebagai inti kondensasi pada proses pembentukan awan yang mampu memantulkan sinar Matahari.

"Apabila kita melihat citra satelit awan, garis awan putih di atas lautan di sepanjang jalur pelayaran padat itu adalah awan2 yang umumnya tumbuh dengan inti kondensasi sulfur. Awan-awan ini akan memantulkan lebih banyak sinar Matahari," kata Siswanto.

Ide Meredupkan Matahari Wacana Jadul

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Indra Gustari menyatakan ide meredupkan Matahari dengan SO2 telah muncul sejak tahun 1970an.

"Ide ini diangkat berdasarkan kajian terhadap catatan suhu atmosfer yang cenderung turun atau mendingin pada saat dan setelah ada erupsi gunung api yang banyak melepaskan sulfur ke atmosfer," kata Indra.

Senada dengan Siswanto, Indra mengingatkan dibutuhkan perhitungan dampak serta sumber daya dan perlu kesepakatan berbagai negara untuk merealisasikan sebagai solusi pemanasan global.

Indra mengatakan perlu ditentukan berapa derajat suhu yang diturunkan. Kemudian para ahli juga harus mempelajari berbagai dampak SO2, misalnya perubahan suhu di berbagai belahan bumi, perubahan distribusi hujan yang akan terjadi jika ide tersebut dilakukan.

"Jadi masih perlu kajian yang mendalam dan transparan tentang keuntungan dan kerugian jika akan implementasikan," kata Indra.

Sebelumnya, para peneliti dari Universitas Cape Town, Afrika Selatan, berencana meredupkan Matahari dengan melepaskan partikel kecil ke atmosfer Bumi.

Partikel reflektif ini terbuat dari aerosol sulfur dioksida ini bakal memantulkan kembali cahaya Matahari. Sehingga, cahaya yang masuk ke Bumi jadi lebih redup.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK