Riuh Netizen Komentari Meme KPU soal Pilkada Serentak 2020

CNN Indonesia | Jumat, 04/12/2020 14:37 WIB
Netizen ramai komentari meme Pilkada Serentak 2020 bagi penyintas Covid-19. Ilustrsi pilkada serentak. (CNN Indonesia/Farida)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pro kontra mewarnai komentar netizen terkait dengan unggahan kartun oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) bagi para penyintas Covid-19 yang terinfeksi virus corona (SARS-CoV-2).

Dalam gambar itu, dijelaskan penyintas Covid-19 yang tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit maupun isolasi mandiri tetap bisa mengikuti Pilkada Serentak.

"Halo #TemanPemilih, setiap suara sangat berarti. Prinsip ini jg yg melatarbelakangi KPU untuk memastikan hak pilih pasien Covid-19 dan rawat inap ttp dpt gunakan hak pilihnya di 9 Desember nanti. Petugas dan saksi datang menggunakan APD. Ingat 7 Hari Lagi ya #KPUMelayani," cuit KPU, Rabu (2/12) lalu.


Cuitan @KPU_ID ini pun lantas ramai menjadi perbincangan netizen. Pantauan CNNIndonesia.com per Jumat (4/12) pukul 12.00 WIB, setidaknya ada 256 retweet, 630 like, dan 5,5 tweet kutipan.

Sejumlah pengguna mengkritik cuitan itu lewat sindiran berupa kartun balasan.

Aktivis perempuan Lini Zurlia pun membalas unggahan KPU dengan sebuah kreasi gambar alias meme. Meme itu berisi unggahan gambar serupa dari KPU namun telah diedit, seperti tulisan 'Pasien Covid-19 dan rawat inap tidak kehilangan hak pilih' dan kemudian diganti dengan 'Jangan mati dulu, ikutlah nyoblos dulu karena oligark butuh suaramu untuk terus bergenerasi'.

"Hallo KPU, nih ada yg benerin komiknya," cuit Lini melalui akun twitter @Lini_ZQ.

Beberapa pengguna Twitter yang lain pun turut mendengungkan suara kontra melalui balasan di unggahan KPU itu. Seperti salah satu pengguna @wisnu_prasetya yang menilai informasi KPU itu semakin menunjukkan bahwa suara rakyat hanya dibutuhkan jelang pemilihan umum saja.

"Ilustrasi paling gamblang untuk menunjukkan bahwa orang-orang cuma dibutuhkan suaranya 5 tahun sekali. Kalo sakit dan sedang bertaruh nyawa, ditanggung sendiri-sendiri," cuit Wisnu.

Senada, Chairman Junior Doctor Network of Indonesia (JDN Indonesia) Andi Khomeini Takdir pun mengomentari unggahan KPU dengan harapan bahwa pelaksanaan pilkada 9 Desember mendatang tidak menimbulkan klaster penyebaran covid-19 yang baru.

"Semoga gak jadi super-spreader," kata dia.

Di sisi lain, beberapa pengguna Twitter terlihat juga mendengungkan dukungan kepada Pilkada Serentak 2020 ini. Sebab menurut mereka bagaimanapun pilkada sudah tidak mungkin dibatalkan juga.

Pengguna twitter yang lain @yeremia_a pun menyebut mau tak mau pilkada bakal tetap berlangsung. Oleh sebab itu, ia pun menyarankan agar teknis pencoblosan menggunakan bantuan sinar ultraviolet guna membantu sterilisasi.

"Saran, karena udah terlanjur diputus pilkada dan nggak ada wacana ditunda, untuk yang begini ini pakai UV Box," cuitnya.

Sementara itu, akun @Friando15 menyebut sebagian orang yang mengaku tidak menyetujui pilkada malah tak sadar kerap melanggar protokol kesehatan 3M, salah satunya menjaga jarak.

"Apa sih pilkada? Banyak yg ga setuju pilkada. Tapi kalo nongkrong ke cafe, pergi ke mall, pergi liburan, main futsal atau olahraga yg kontak fisik ga ada masalah," cuit Friando.

Pemerintah, DPR, dan penyelenggara pemilu bersepakat untuk meneruskan tahapan Pilkada Serentak 2020. Keputusan dibuat menyusul desakan penundaan karena lonjakan kasus Covid-19.

Bersamaan dengan keputusan itu, seluruh pihak bersepakat memperketat aturan main pilkada, terutama soal penegakan protokol kesehatan. Seluruh sekjen parpol juga rapat dengan Mendagri Tito Karnavian untuk memastikan tak ada lagi pelanggaran protokol kesehatan saat pilkada.

Pelaksanaan pemungutan suara Pilkada 2020 pun hanya tersisa lima hari lagi sebelum hari H pencoblosan yang berlangsung 9 Desember mendatang.

Pilkada 2020 akan menyerentakkan 270 pemilihan dalam satu hari. Sebanyak 100.359.152 pemilih di 309 kabupaten/kota akan terlibat dalam pesta demokrasi kali ini.

(khr/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK