Ahli Jelaskan Hasil Negatif PCR di RI dan Luar Negeri Berbeda

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Senin, 21/12/2020 12:04 WIB
Ahli Biologi dan Molekuler Ines Atmosukarto menyatakan ada banyak faktor membuat seseorang dinyatakan positif Covid-19 usai dinyatakan negatif dalam uji PCR. Ilustrasi swab antigen. (Foto: AP/Kay Nietfeld)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli Biologi dan Molekuler Ines Atmosukarto menyatakan ada banyak faktor yang membuat seseorang dinyatakan positif Covid-19 meski sempat dinyatakan negatif dalam uji swab PCR dalam waktu yang berdekatan.

Hal itu merespon laporan bahwa sejumlah warga negara Indonesia dinyatakan positif Covid-19 saat tiba di luar negeri. Padahal, hasil tes swab PCR mereka di Indonesia sebelum terbang ke luar negeri menyatakan negatif Covid-19.

"Ada berbagai kemungkinan hasil PCR berubah," ujar Ines kepada CNNIndonesia.com, Senin (21/12).


Ines membeberkan beberapa faktor yang membuat hasil test PCR berubah atau berbeda. Misalnya, ada perbedaan kapasitas antar laboratorium dalam mengoperasikan test PCR.

Terlebih, dia tidak mengetahui apakah Indonesia memiliki otoritas yang memastikan bahwa kapasitas laboratorium dalam melakukan tes PCR memenuhi persyaratan atau tidak.

"Jadi memang sebaiknya kalau misalnya untuk tes yang diperuntukan untuk ke luar negeri itu perlu mungkin ditentukan lab-lab mana yang berhak mengeluarkan sertifikat," ujarnya.

Lebih lanjut, Ines menerangkan seseorang bisa terinfeksi virus corona SARS-CoV-2 saat dalam perjalanan ke luar negeri atau beberapa saat sebelum menjalani swab PCR setelah tiba di luar negeri.

"Jadi bisa juga tes itu karena di pas ambang batas dia baru atau belum lama terkena. Tapi yang penting sebenarnya mungkin dari Departemen Luar Negeri perlu penunjukan laboratorium mana yang berhak mengeluarkan sertifikat bagi orang yang ke luar negeri," ujar Ines.

Cara kerja PCR dinilai akurat

CEO perusahaan startup di bidang bioteknologi bernama Lipotek itu menuturkan PCR merupakan metode untuk mendeteksi Covid-19 yang paling akurat hingga saat ini. Namun, metode itu rumit karena banyak proses yang harus dipatuhi agar tes PCR bekerja dengan baik.

Misalnya, dia membeberkan sampel seseorang harus diambil dengan benar. Sebab, hasil PCR menyatakan negatif ketika sampel yang diambil kurang bagus. Kemudian, hasil bisa salah ketika sampel tidak disimpan dengan benar.

"Misalnya sampel itu diambil di daerah, kemudian harus dikirim. Kalau sampel itu penyimpanannya kurang tepat sampai ke laboratorium pengetes bisa saja sudah terdegradasi itu virus yang ada di dalam sampel," ujarnya.

Selain pengambilan dan pengiriman sampel, pengolahan sampel juga bisa membuat hasil PCR tidak akurat. Dia menyebut proses pengolahan sampel PCR bergantung pada kapabilitas peneliti laboratorium.

Sedangkan mesin PCR, dia berkata berada pada tahap akhir. Mesin PCR tidak bisa menjadi patokan sebuah hasil PCR akurat.

"Jadi memang itu tes yang cukup rumit. Jadi kita harus menyadari hal tersebut juga," ujar Ines.

(jps/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK