TREN TEKNOLOGI

Memahami Dunia Baru Metaverse yang Disinggung Mark Zuckerberg

CNN Indonesia
Sabtu, 14 Agu 2021 18:37 WIB
Istilah metaverse makin banyak diperbincangan belakangan, termasuk dibahas oleh pendiri Facebook Mark Zuckerberg. Foto: AFP/AMY OSBORNE
Jakarta, CNN Indonesia --

CEO Facebook Mark Zuckerberg baru-baru ini mengumumkan bahwa raksasa teknologi itu akan beralih dari perusahaan media sosial menjadi perusahaan metaverse. Hal ini bertujuan untuk memadukan dunia nyata dan virtual atau disebut "internet yang dibuat nyata".

Namun mengingat hampir tiga miliar orang di muka bumi kini menggunakan Facebook setiap bulan, saran Zuckerberg tentang Metaverse perl diperhatikan. Istilah "metaverse" bukanlah hal baru.

Metaverse merupakan realitas digital alternatif tempat orang bekerja, bermain dan bersosialisasi. Bisa juga disebut mirror world, AR cloud, magic verse, internet spasial, atau live maps.

Melansir, New Scientist, kata metaverse merupakan penggabungan dua kata dari awalan "meta" yang berarti di luar dan "universe" atau alam semesta.

Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan konsep interaksi internet masa depan, yang terdiri dari ruang virtual 3D yang persisten dan terbagi kemudian dihubungkan ke dunia virtual yang dirasakan.

Manusia telah mengembangkan banyak teknologi untuk mengelabui indera kita, dari speaker audio dan televisi hingga video game interaktif dan Virtual Reality (VR), dan di masa depan kita dapat mengembangkan alat untuk mengelabui indera kita yang lain seperti sentuhan dan penciuman.

Kata-kata seperti "internet" dan "dunia maya" telah dikaitkan dengan tempat-tempat yang kita akses melalui layar. Mereka tidak cukup menangkap jalinan internet yang stabil dengan realitas virtual, seperti dunia game 3D atau kota virtual, dan AR seperti hamparan navigasi.

Akademisi telah menulis tentang ide serupa dengan nama "extended reality" selama bertahun-tahun, tapi itu nama yang agak terdengar membosankan.

"Metaverse", diciptakan oleh penulis fiksi ilmiah Neal Stephenson dalam novelnya tahun 1992 "Snow Crash,". Penulis memiliki kebiasaan mengenali tren yang diberi nama seperti "Cyberspace" yang berasal dari buku tahun 1982 karya William Gibson; "robot" berasal dari drama 1920 karya Karel Apek.

Neologisme baru-baru ini seperti "cloud" atau "Internet of Things" telah melekat pada kita, justru karena itu adalah cara praktis untuk merujuk pada teknologi yang menjadi semakin penting. Metaverse duduk dalam kategori yang sama.

Jika Anda sudah lama mengikuti tentang perusahaan teknologi besar seperti Apple, Facebook, Google, dan Microsoft, Anda mungkin akan merasa bahwa kemajuan teknologi seperti kemunculan metaverse tidak dapat terhindarkan.

Sulit juga untuk tidak berpikir tentang bagaimana teknologi baru ini akan membentuk masyarakat, politik, dan budaya kita, dan bagaimana kita dapat menyesuaikan diri dengan masa depan itu.

Gagasan ini disebut "determinisme teknologi", yang merupakan pengertian bahwa kemajuan teknologi membentuk hubungan sosial, hubungan kekuasaan, dan budaya kita.

Untuk Facebook dan perusahaan teknologi besar lainnya, metaverse menjadi menarik karena menghadirkan peluang untuk pasar baru, jenis jaringan sosial baru, elektronik konsumen baru, dan menjadi paten baru.



Ide Metaverse Buat Masyarakat Makin Produktif

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER