MEET THE GEEK

Kisah Astronom Wanita Pertama RI yang Diabadikan di Asteroid

can | CNN Indonesia
Jumat, 03 Sep 2021 19:24 WIB
Kisah Astronom Wanita Pertama RI yang Diabadikan di Asteroid
Kepala Observatorium Bosscha Premana W Premadi (tengah), astronom wanita pertama yang diabadikan jadi nama asteroid. (dok. tangkapan layar Instagram)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Observatorium Bosscha Bos Boscha, Premana W Premadi, menjadi astronom wanita pertama di Indonesia yang namanya diabadikan jadi nama asteroid di luar angkasa.

Nama Premana disematkan pada asteroid yang ditemukan oleh C. J. van Houten, Ingrid van Houten-Groeneveld, dan Tom Gehrels, pada 24 September 1964.

Premana blak-blakan alasan mengapa namanya dicomot menjadi nama asteroid, yaitu 12937 Premadi. Ia menjelaskan bahwa penganugerahan itu lantaran kontribusinya sebagai pendidik di dunia astronomi, serta ambil bagian menjadi peneliti di bidang kosmologi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemberian anugerah ini karena kontribusi saya sebagai pendidik di dunia astronomi, kemudian sebagai peneliti di bidang kosmologi. Mungkin utamanya lebih pada upaya menjadikan astronomi ini sebagai sesuatu yang bisa diminati, dinikmati oleh lebih banyak orang," ujar Premana kepada CNNIndonesia.com, Kamis (2/9).

Nama Premana kian kesohor di bidang keilmuan astronomi dunia, lantaran aktif mendalami keilmuan astronomi hingga dia diberi tahta untuk menjadi Kepala Observatorium Bosscha, Lembang, sejak 2018.

Dia mengatakan, hal yang menarik dari ilmu astronomi adalah sifatnya yang universal, yakni semua orang bisa mengamati objek langit yang jauh tanpa perbedaan perspektif.



Senang mengajari astronomi ke anak-anak

Wanita yang akrab dipanggil Nana itu juga aktif membangun organisasi Universe Awareness for Children (Unawe) pada 2007. Organisasi itu disebutnya sebagai wadah anak-anak untuk dapat mengenal astronomi sejak dini.

Ia mengatakan keaktifannya di organisasi itu lantaran ketertarikannya terhadap anak-anak. Sebab, menurutnya anak kecil pada umumnya tidak terganggu oleh bermacam bias. Pada umumnya, anak kecil tidak merasa berbeda dari yang lain, dan ditunjang dengan rasa keingintahuan yang tinggi.

"Jadi anak-anak bisa cerita tentang Bulan dan Matahari. Anak-anak di sini anak-anak di benua lain akan melihat fenomena yang sama," tuturnya.

Di organisasinya, dia mengaku tidak mengajarkan sains seutuhnya. Melainkan mengajak anak-anak untuk mengobservasi, menikmati dan menyadarkan mereka bahwa benda langit yang dilihat itu merupakan nilai berharga.

"Dari situ mereka menyadari bahwa 'iya ya seneng juga lihat bintang'," ujarnya.

Meski demikian saat ini tidak semua tempat bisa menikmati suguhan pemandangan bima sakti. Seperti di kota-kota besar contohnya Jakarta, saat ini sudah terlalu banyak polusi cahaya dan polusi udara. Sehingga tidak mudah untuk melihat pemandangan antariksa itu.



Penjelajahan Voyager Jadi Inspirasi

Kepala Observatorium Bosscha Premana W Premadi (tengah), astronom wanita pertama yang diabadikan jadi nama asteroid. (dok. tangkapan layar Instagram)

Observatorium Kupang

Selain sibuk sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung, ia juga ambil peran penelitian dalam pembangunan pusat observatorium di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Dia menjelaskan keuntungan pendirian observatorium yang diprediksi akan rampung beberapa tahun lagi. Ia mengatakan salah satu keuntungannya adalah Indonesia bisa melihat porsi langit yang cukup besar dari kedua arah, yaitu sisi langit utara maupun selatan.

Premana mengatakan bahwa teropong-teropong besar yang berada di Amerika bagian selatan sekalipun, disebut tidak bisa melihat langit di bagian utara.

"Teropong-teropong yang besar sekali umumnya ada di Amerika Selatan, di Chile. Di sana besar-besar sekali karena dia ada di sebelah selatan dia engga bisa lihat bagian utara," tuturnya.

Jadi, kata dia, dari sisi cakupan langit di garis khatulistiwa memang menguntungkan dalam pantauan langit. Nantinya di Indonesia bisa memberikan perspektif yang beda untuk melengkapi mozaik pengamatan dari teropong lain.

Terinspirasi Guru dan Voyager

Dia menceritakan awal mula memilih program studi ilmu astronomi di ITB pada 1988 silam. Premana mengaku sangat beruntung dididik oleh guru yang baik dan paham atas bahan ajarannya, di antaranya adalah guru fisika dan kimia.

Premana menilai bahwa guru semasa Sekolah Menengah Atas (SMA) membukakan wawasan Premana bahwa fisika bukanlah ilmu yang ada di buku, melainkan ilmu yang ada di keseharian.

Sampai akhirnya ia melihat ada program studi (prodi) strata-1 ilmu astronomi di ITB, akhirnya dia memilih jurusan itu lantaran tergolong sebagai orang yang gemar mengamati sesuatu, termasuk hal yang ada di sekitar.

Premana mengatakan bahwa sains membuat orang mau bertanya tentang hal-hal yang sulit diungkap. Hal itu membutuhkan kontribusi untuk mencari jawaban, untuk memikirkan, minimal untuk mengapresiasi betapa semua hal itu indah untuk dinikmati.



Selain terinspirasi oleh guru, prodi ilmu astronomi yang dipilihnya juga terinspirasi saat pertama kalinya ia melihat gambar dari citraan pesawat Voyager milik lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA yang terbang mengunjungi Jupiter dan Saturnus di akhir tahun 70 hingga 80an.

"Saya juga terinspirasi misalnya baru pertama-tama mengirimkan gambar dari Voyager. Jadi kan Voyager jalan kemudian lewat planet-planet besar mulai kita punya foto-foto incredible seperti Jupiter," tuturnya.

Dia menceritakan saat itu tentu saja belum ada Hubble space telescope. Sehingga ada satu pesawat tanpa awak yang lewat ke planet-planet besar untuk mengambbil foto membuat isi kepalanya terbuka.

Premana berkisah saat masa muda itu. Setelah ia melihat tangkapan gambar dari luar angkasa, ia justru bertanya-tanya, dari mana datangnya bima sakti? bagaimana muasal jajaran planet bisa tersusun rapi beredar mengelilingi Matahari.

"Jadi buat saya itu yang lebih mendekatkan saya ke astronomi ya," tuturnya.

Premana lanjut menceritakan kesibukannya setelah ia lulus dari prodi ilmu Astronomi itu.

Dia menceritakan bahwa sedari awal lulus sudah dikhususkan untuk mempelajari bagaimana alam berevolusi, bagaimana strukturnya dan berapa usianya. Jadi, di awal karirnya ia sepenuhnya berkecimpung di sekelumit teori. Hal itu lantaran belum adanya teleskop yang dapat mengamati alam semesta.

Lantas ia melanjutkan studinya hingga S-3 di Departemen Fisika, University of Texas, pada 1996. Ia lantas melanjutkan penelitian tentang kosmologi. Dia menceritakan bahwa saat itu sudah mulai berdatangan hasil pengamatan yang cakupannya lebih besar, lantaran mulai beroperasinya Hubble Space Telescope.

LIHAT SELENGKAPNYA