MEET THE GEEK

Agus Haryono, Riset Bioplastik dan Perantauan Studi Negeri Sakura

lnn | CNN Indonesia
Jumat, 07 Jan 2022 15:31 WIB
Belasan tahun di Jepang, karier penelitian Agus Haryono dilanjutkan di Tanah Air dengan pengembangan pemanfaatan bioplastik. Belasan tahun di Jepang, karier penelitian Agus Haryono dilanjutkan di Tanah Air dengan pengembangan pemanfaatan bioplastik. (Foto: Dok. BRIN)

Perjalanan Menjadi Peneliti

Awal mula ketertarikan Agus pada sains muncul sejak bangku sekolah dasar. Saat itu Agus dan teman-temannya membuat penyulingan-penyulingan dari tanaman yang ada di sekitar.

Kemudian menginjak bangku SMA, ketertarikan Agus pada dunia penelitian semakin terlihat kala ia menjadi ketua Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Di kelompok tersebut ia melakukan sejumlah riset seperti pemanfaatan bahan alam dan beberapa riset lain dengan topik lingkungan.

Langkah awal menjadi peneliti profesional ditapaki Agus kala ia mendapatkan beasiswa Science and Technology Manpower Development Program (STMDP) dari pemerintah.


Beasiswa tersebut menopang kebutuhan pembiayaan Agus selama berkuliah di Waseda University pada jenjang sarjana atau S1.

Di pengujung perkuliahan, tepatnya pada masa-masa penelitian di laboratorium, Agus sempat merasa berat dengan jalan hidupnya sebagai peneliti.

Agus menyebut hal ini disebabkan karena ia mendapat sosok pembimbing penelitian yang cukup keras kepadanya, yang hampir setiap hari memarahinya.

Hampir putus asa, Agus sempat berkonsultasi dengan orang tuanya tentang permasalahan tersebut.

Namun dengan ketekunan dan semangat pantang menyerah, akhirnya Agus dapat melewati masa berat itu.

Setelah mendapatkan gelar sarjana, Agus kemudian menikah dan beruntungnya ia mendapat istri yang sangat mendukungnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.
Saking mendukungnya, pendidikan S2 Agus 'dibeasiswai' oleh istrinya.

Selesai dengan jenjang S2, Agus kembali mendapatkan beasiswa untuk jenjang S3-nya dan melanjutkan pendidikan di kampus yang sama.

Masih belum puas dengan S3, Agus mengambil pendidikan Post-Doctoral di sana sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.

Total Agus menghabiskan waktu 14,5 tahun di Jepang sejak 1989 dan baru kembali ke Indonesia pada 2002.

Jepang dan Indonesia

Bersamaan dengan beasiswa STMDP yang ia dapatkan, Agus juga dilantik sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan bergabung bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kini telah melebur ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Uniknya, Agus baru bekerja untuk LIPI setelah kepulangannya ke Indonesia pada 2002, sehingga ia memiliki predikat pegawai namun tidak pernah masuk kerja selama 14,5 tahun.

"Untungnya saya selalu berusaha berhubungan baik terus dengan atasan saya di LIPI, setiap tiga bulan sekali saya mengirim surat, dan setiap pulang liburan pun saya mampir," kata Agus mengenang masa tersebut.

"Mungkin karena itu 14,5 tahun saya enggak dipecat," tambahnya sambil bercanda.

Saat kembali ke Indonesia, Agus mendapati beberapa perbedaan pada iklim penelitian di Jepang dan Indonesia.

Meski menurutnya kemampuan peneliti Indonesia tak kalah baik dengan peneliti di Jepang, namun ada perbedaan yang cukup kentara pada etos kerja.

Peneliti di Jepang bisa menghabiskan waktu di laboratorium mulai dari pukul 9 pagi hingga pukul 1 dini hari. Dan hal tersebut berlangsung pada hari Senin sampai Sabtu.

Lebih lanjut, selama menjadi bagian dari LIPI dalam kurun waktu lebih dari 32 tahun, Agus sempat menjadi Pelaksana Harian Kepala LIPI pada masa transisi LIPI melebur ke BRIN.
Kini pria kelahiran Madura ini menjabat sebagai Kepala Organisasi Ilmu Pengetahuan Teknik (OR-IPT) BRIN.

(lnn/fjr)

[Gambas:Video CNN]
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER