"Saya belum tahu rencana Pertamina, tapi yang paling penting kita harapkan harga elpiji akan turun. Intinya barang-barang yang tidak disubsidi lagi diharapkan akan terjadi fleksibilitas di pasar," ujar Sofyan saat ditemui di kantornya, Senin (12/1).
Sofyan menilai rencana tersebut diperlukan mengingat beban biaya yang harus ditanggung Pertamina akibat fluktuasi harga gas dunia. Dia mencontohkan Pertamina pernah menahan untuk tidak menaikkan harga elpiji 12 kg ketika harga gas dunia sedang tinggi, maka akibatnya Pertamina akan mengalami akumulasi kerugian besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sofyan pun yakin, masyarakat akan terbiasa dengan perubahan kebijakan tersebut. Menurut Sofyan, selama ini reaksi masyarakat yang shock kemudian menolak perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan gas akibat terlalu lama harga tersebut ditahan dan tidak dilepas ke mekanisme harga pasar.
Hal senada coba dilakukan pemerintah terhadap harga jual BBM bersubsidi yaitu solar dan BBM penugasan yaitu premium. Pekan lalu, Sofyan menuturkan rencana pemerintah yang akan melakukan perubahan harga BBM bersubsidi tiap dua pekan sekali. Pertimbangan menaikkan harga BBM per dua pekan kata Sofyan, didasarkan pada fluktuasi harga minyak dunia yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan kemampuan PT Pertamina selaku pemasok BBM nasional.
Dia memberikan contoh, jika minggu pertama tiba-tiba harga minyak dunia turun menjadi US$ 50 per barel dari sebelumnya US$ 60 per barel, maka itu akan jadi keuntungan Pertamina. Tapi jika dalam sebulan itu justru harga naik, maka jadi beban kerugian bagi Pertamina.
"Jikalau misalkan dua kali sebulan lebih baik, kita ubah caranya. Karena supaya kalau misalnya harga turun, jangan terlalu banyak Pertamina mendapatkan uang, kalau naik jangan terlalu banyak juga beban Pertamina," katanya. (gen)