Head of Research PT Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan pasca menguat di akhir pekan kemarin, laju rupiah kembali melemah seiring pelaku pasar melakukan peralihan ke yen yang sedang bergerak menguat.
“Penguatan yen dipicu antisipasi sentimen negatif dari China berupa pengendalian margin trading yang dipersepsikan kemungkinan adanya pembatasan transaksi tersebut,” ungkap Reza seperti dikutip dari riset, Senin (19/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Belum adanya sentimen positif signifikan masih akan membuat laju rupiah variatif dengan cenderung melemah. Tetap perlu mewaspadai setiap potensi perubahan. Rupiah bakal bergerak antara Rp 12.620-12.600 (kurs tengah BI),” jelasnya.
"Depresiasi rupiah didorong oleh kuatnya dolar AS terhadap seluruh mata uang negara lain," ujar Agus saat rapat kerja dengan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta, Senin (19/1).
Meski range yang ditetapkan BI terlalu lebar, dia menyebutkan BI melihat masih ada potensi gejolak nilai tukar di tahun ini. "Batas Rp 12.200 oleh pemerintah itu angka yang baik. Angka itu untuk memberikan satu indikasia bahwa perkembangan eksternal masih perlu diwaspadai. Dan kita masih belum bisa mengantisipasi dengan lengkap bagaimana perbaikan ekonomi di AS dan potensi kenaikan FED Fund Rate," ujar Agus. (gir/gir)