Berdasarkan keterangan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini Senin (16/2), tercatat pada Januari 2015, ekspor non migas sendiri mencapai US$ 11,22 miliar. Angka tersebut turun 6,24 persen jika dibandingkan dengan ekspor non migas pada tahun sebelumnya pada periode yang sama.
"Kalau diperhatikan sejak 2008 tren angka ekspor dari Desember ke Januari memang suka turun," ujar Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers di Kantor BPS Pusat, Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ekspor hasil pertanian juga mengalami kenaikan sebesar 0,51 persen menjadi US$ 0,44 miliar. Sementara, ekspor hasil tambang dan lainnya mengalami penurunan sebesar 1,27 persen menjadi US$ 1,72 miliar pada Januari 2015.
Pada awal Janurari 2015, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Partogi Pangaribuan mengungkapkan pemerintah menetapkan target ekspor non-migas tahun ini mencapai US$ 192,5 miliar. Angka tersebut hanya naik 4,5 persen dari target tahun lalu, yakni US$ 184,3 miliar.
“Diperkirakan masih ada perbaikan ekonomi global di Amerika Serikat dan Eropa," kata Partogi.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak mengatakan beberapa komoditas yang akan jadi andalan ekspor tahun ini adalah produk elektronik, tekstil, kimia, kertas, dan furnitur. Selain itu, ada produk otomotif, plastik, peralatan medis, alas kaki, kerajinan, dan kulit. Sementara untuk minyak sawit mentah, karet, dan kakao tampaknya belum terlalu cerah sebab harganya sedang rendah.
Partogi mengakui target ekspor 2015 masih jauh dari komitmen Menteri Perdagangan Rachmat Gobel pada awal masa jabatannya yang memasang target ambisius pertumbuhan ekspor sebesar 300 persen selama lima tahun. Jika dihitung secara rata-rata, maka pemerintah harus meningkatkan ekspor 60 persen setiap tahun untuk mencapai target tersebut. (gen)