Hal tersebut dilakukan guna memajukan sektor pariwisata Indonesia melalui pemanfaatan infrastruktur information and communication technology (ICT) dan pengembangan pariwisata terintegrasi.
“Ini menjadi salah satu bentuk dukungan Telkom untuk mendukung program pemerintah mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019 nanti,” kata Direktur Enterprise and Business Service Telkom Muhammad Awaluddin, dalam acara penandatanganan kerjasama tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CEO Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter Poernomo Siswoprasetjo dalam kesempatan yang sama mengungkapkan Indonesia memiliki beragam destinasi pariwisata namun sayangnya kurang dipromosikan dengan baik dan aksesibilitasnya kurang memadai. Adanya sinergi antara Telkom dan PATA dapat membantu dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang lebih baik dalam hal ini memudahkan melakukan kegiatan promosi dan juga pemesanan tiket.
Poernomo berharap adanya peningkatan jumlah wisatawan sebesar 50 persen per tahun di setiap destinasi wisata yang meningkatkan penggunaan ICT-nya.
Sebelumnya, Telkom juga telah melakukan penandatanganan kerjasama dengan PATA pada 18 Agustus 2014 lalu terkait pengelolaan e-ticketing dan web commerce di Keraton Kesepuhan Cirebon dan Taman Air Sunyaragi. Kerjasama ini direalisasikan melalui launching layanan tersebut pada 3 Maret 2015.
Bidik Rp 200 Miliar per Tahun
Awal menargetkan Rp 200 miliar tambahan pendapatan per tahun dari penyediaan sistem dan aplikasi yang dibutuhkan dalam skema kerjasama ini. Jumlah ini tidak signifikan dari total pendapatan total Telkom yang pada kuartal III 2014 mencapai sekitar Rp 65,84 triliun. Kendati demikian, Awal melihat gambaran besarnya yaitu kemajuan pariwisata Indonesia.
“Sekarang orang sudah biasa, dia menabung dalam setahun dia spend dari tabungannya dua kali untuk berwisata secara pribadi maupun keluarga. Kalau dulu kan tidak umum itu. Kalau sekarang orang memang menabung untuk berwisata,” tutur Awal.
Terkait dengan investasi, Awal menyebutkan hal tersebut tergantung destinasinya. Dia mengaku belum dapat menyebutkan total investasi yang disiapkan namun ketika mengembangkan sistem ICT di Keraton kesepuhan Cirebon, Telkom disebutnya harus menggelontorkan investasi sebesar Rp 5 miliar.
“(Biaya terbesar) di perangkat electronic gate system terus juga mesin cetak, itu kalau untuk yang di site ya. Kalau yang online, online ticketing itu server dan lain sebagainya. Tapi kalau server kan kita sudah punya kita memanfaatkan excess capacity,” ujarnya.
Ke depannya, Awal berharap akan lebih banyak lagi destinasi pariwisata Indonesia yang dapat masuk ke dalam sistem ini. Meskipun demikian, dia belum dapat menyebutkan jumlah tempat wisata yang dapat menggunakan sistem ICT dari Telkom ini dalam setahun ke depan. (gen)