Kemenhub Tak Akan Serahkan Lahan untuk Rusunami Tanjung Barat

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 09/03/2015 20:28 WIB
Kemenhub Tak Akan Serahkan Lahan untuk Rusunami Tanjung Barat
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih memberikan sinyal negatif terhadap rencana pembangunan rumah susun sederhana milik (rusunami) oleh Perusahaan Umum Perumahan Nasional (Perum Perumnas) di dekat Stasiun Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Sesuai rencana awal, Kemenhub selaku pemilik Hak Pengelolan Lahan (HPL) atas lahan tersebut akan membangun gedung operasional Balai Teknik Perkeretaapian wilayah Jakarta dan Banten di atas lahan tersebut.

“Saya sudah berbicara dengan Pak Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, dapat arahan agar lahan itu digunakan untuk membangun balai teknik kereta api saja. Bisa saja rusunami tetap dibangun, tapi itu tanahnya negara jadi harus ganti rugi dulu ke Kementerian Keuangan,” kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Hermanto Dwiatmoko di kantornya, Jakarta, Senin (9/3).

Sedianya, proyek rusunami Tanjung Barat akan dibangun oleh Perumnas menggunakan lahan tersebut melalui kerjasama dengan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) sebagai bagian dari sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/ MoU) antara dua perusahaan pelat merah tersebut sudah ditandangani sejak 2012, ketika Menteri Jonan masih menjabat sebagai Direktur Utama PT KAI.

Namun sampai saat ini, Hak Pengelolaan Lahan (HPL) di lahan seluas 1,1 hektare (ha) tersebut masih ada di tangan Kemenhub dan belum dialihkan ke PT KAI.

Masih Memungkinkan


Meskipun demikian, Hermanto masih membuka peluang pemanfaatan lahan tersebut untuk rusunami asalkan Perumnas bersedia mengakomodir kepentingan Kemenhub untuk membangun Balai Teknik Perkeretaapian wilayah Jakarta dan Banten.

“Bisa aja nanti rusunami di bikin tinggi, tapi nanti saya minta lima lantai misalnya dan ini harus kita bahas dulu,” kata Hermanto.

Senada dengan Hermanto, Direktur Umum PT KAI Edi Sukmoro pada Jumat (6/3) lalu mengungkapkan apabila rusunami tersebut tetap dibangun, pihak Perumnas harus dapat mengakomodir kepentingan pihak-pihak terkait atas lahan yang saat ini berfungsi sebagai tempat parkir tersebut.

“Kalau memang masih bisa gedung Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jakarta dan Banten itu dibangun juga tetapi rusunami itu juga dibangun. Itu kan tidak salah juga,” kata Edi.

Proyek rusunami Tanjung Barat bukan satu-satunya target sinergi antara Perumnas dan PT KAI. Rencananya, Perumnas akan membangun sejumlah rusunami di dekat stasiun-stasiun kereta api. Selain dapat menyediakan tempat tinggal bagi masyarakat menengah ke bawah, proyek ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan di Jakarta.

Seandainya proyek rusunami Tanjung Barat dibatalkan, Edi menjamin akan segera mengkaji lokasi lain di lahan yang kepemilikannya di tangan KAI. Kendati demikian, Edi belum dapat menginformasikan rinciannya.

“Loh kan stasiun lain yang lahannya sudah kepemilikannya PT KAI. Belum bisa saya kasih tahu sekarang, nanti pada kepengen,” kelakar Edi. (gen)