BKPM mencatat adanya US$ 16,1 miliar rencana investasi asing sepanjang bulan Januari dan Februari 2015, atau naik sebesar 1,5 kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun lalu dengan nilai US$ 6,3 miliar.
"Jadi, seperti yang saya nyatakan sebelumnya, tren pelemahan nilai tukar rupiah belum berdampak terhadap minat investasi. Kita berharap rencana investasi ini dapat segera terealisasi sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Kepala BKPM Franky Sibarani melalui siaran pers, Sabtu (14/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan Rencana Investasi dari Singapura dan Korea Selatan
Meskipun begitu, BKPM juga mencatat adanya penurunan rencana investasi dari sejumlah negara pada periode Januari hingga Februari 2015. Salah satu negara tersebut adalah Singapura yang nilai rencana investasinya pada periode tersebut sebesar US$ 2,32 miliar, atau turun 12,78 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 2,66 miliar.
Selain Singapura, rencana investasi asal Korea Selatan juga ikut menurun sebesar 79,02 persen dari US$ 669,29 juta pada tahun lalu menjadi hanya US$ 140,4 juta pada tahun ini. Padahal demi menggaet minat investor Korea Selatan, BKPM telah menyelenggarakan investor summit pada bulan lalu yang dikatakan berhasil mengantongi komitmen investasi senilai US$ 30 juta, atau 21,36 persen dari total keseluruhan minat investasi Korea Selatan antara Januari hingga Februari 2015.
“Kita berpendapat penurunan nilai rencana investasi dari negara-negara tersebut bukan akibat melemahnya nilai tukar rupiah, tapi karena tren waktu pengajuan permohonan yang biasanya semakin meningkat di bulan-bulan berikutnya," tegas Franky.
Perlu diketahui bahwa pada tahun ini BKPM menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 519,5 triliun, dimana sebanyak Rp 343,7 triliun atau 66,15 persen dari nilai tersebut merupakan penanaman modal asing. Target PMA tahun ini lebih besar 11,95 persen dibanding tahun lalu, dimana capaian realisasinya mencapai angka Rp 307 triliun. (gir/gir)