Telkom dalam laporan keuangannya mencatat pendapatan sebesar Rp 89,696 triliun sepanjang 2014 atau naik 8,11 persen dibandingkan 2013 sebesar Rp 82,967 triliun. Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) di 2014 sekitar Rp 45,8 triliun atau naik 8,02 persen dibandingkan 2013 sebesar Rp 42,4 triliun.
Sepanjang tahun lalu, Telkom berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp 14,638 triliun atau naik 3,05 persen dibandingkan 2013 sebesar Rp 14,205 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan Indosat diperkirakan memperoleh pendapatan sebesar Rp 24,08 triliun atau naik 1 persen dibandingkan pendapatan 2013 sebesar Rp 23,84 triliun. Kerugian yang diderita Indosat di 2014 sebesar US$ 154,8 juta atau setara Rp 2,036 triliun, mengalami penurunan dibandingkan kerugian 2013 sebesar US$ 233,4 juta atau setara Rp 3,071 triliun.
William menyebut meruginya Indosat dan XL akibat banyak berutang dalam denominasi dolar. “Indosat memang sudah mencoba mengonversi sebagian utangnya dalam dolar ke rupiah. Sementara XL itu karena membeli Axis jadi berutang dalam dolar,” kata William dalam risetnya, dikutip Senin (16/3).
Menurut William, pertumbuhan yang dialami emiten telekomunikasi biasanya cerminan dari fokus pembangunan infrastruktur dan pemasaran yang dilakukan.
“Kalau dilihat Telkom konsisten dalam membangun jaringan serta pemasaran, karena itu bisa tumbuh dan untung. Indosat selama tahun lalu kan lebih banyak bicara modernisasi jaringan, sementara XL banyak fokus integrasi dengan Axis,” katanya.
Potensi Telekomunikasi
Ditambahkannya, pada tahun lalu momentum operator untuk mendapatkan penjualan maksimal juga terbagi-bagi secara seasonal mengingat tak bersamaannya musim libur, ramadhan, dan adanya kegiatan Pemilihan Umum. “Kalau saya melihat potensi ke depan dari sektor telekomunikasi masih oke, soalnya dari sisi demografi tak akan menyusut,” katanya.
Sebelumnya, keberhasilan Telkom mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan tahun lalu ditambah ekspektasi pertumbuhan ke depan mendorong sejumlah analis menaikkan target harga saham perseroan untuk 12 bulan ke depan.
RHB OSK Securities merevisi naik target harga saham Telkom dari Rp 3.200 menjadi Rp 3.600 dengan rekomendasi beli. Peningkatan target harga ini merefleksikan ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan pendapatan dan monetisasi bisnis non-inti ke depan.
CIMB Securities juga merevisi naik target harga saham Telkom dari Rp 2.950 menjadi Rp 3.200. Revisi naik target harga ini mengindikasikan sikap optimistis pertumbuhan pendapatan perseroan dalam jangka menengah untuk menangkap pertumbuhan pasar telekomunikasi.
Sedangkan Danakresa merekomendasikan beli saham Telkom dengan target harga Rp 3.250 dan terakhir CLSA Securities merekomendasikan outperform saham TLKM dengan target harga Rp 3.100. Saham Telkom pada akhir pekan lalu (13/3), ditutup Rp 2.955 per lembar. (gen)