Pefindo beralasan, tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 20,4 triliun dinilai sebagai faktor utama pemeringkatan tersebut, yang diharapkan dapat memberikan tambahan pembiayaan lebih bagi proyek infrastruktur.
"Pertambahan modal dari pemerintah ke SMI sangat baik karena seperti yang kita ketahui, SMI memiliki banyak proyek namun memiliki dana yang minim. Sehingga untuk periode Maret 2015 hingga Maret 2016, kami masih tetapkan rating di idAA+," ungkap Senior Vice President Financial Division Pefindo, Hendro Utomo di Bursa Efek Indonesia, Selasa (17/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini PIP mengelola aset infrastruktur, dan sebagian pembiayaan disalurkan ke Pemerintah Daerah. Bagi kami, hal tersebut bisa membuka channel pembiayaan SMI ke daerah-daerah sehingga cakupan pembiayaan makin besar," tambah Hendro.
"Kalau kita lihat, debitur SMI pasti meminjam dalam ukuran nominal yang besar. Kalau terjadi sesuatu pada debitur yang menyebabkan gagalnya pengembalian kredit, maka hal tersebut berdampak buruk pada kualitas aset dan berpotensi menurunkan peringkat SMI," tuturnya.
Meskipun beresiko, Pefindo tetap memberikan outlook stabil bagi PT SMI dan bahkan peringkatnya bisa meningkat jika pemerintah mau menambah sutikan modal. "Karena dana yang dimiliki pemerintah hanya bisa membiayai 25 persen infrastruktur, sehingga harus dibantu pihak swasta yang memiliki tingkat keyakinan pengembalian pinjaman yang baik," ujar Hendro.
Sebelumnya, dikabarkan bahwa salah satu proyek yang tengah dibidik SMI adalah proyek kereta yang menghubungkan Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma dengan skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) senilai Rp 19 triliun. Selain itu, terdapat juga proyek tol Trans Sumatera Palembang - Indralaya dengan nilai Rp 2 triliun. (gir/gir)