Perhitungan Harga BBM Tak Jelas, Faisal Cs Minta Formula Baku

Diemas Kresna Duta, CNN Indonesia | Rabu, 01/04/2015 17:11 WIB
Perhitungan Harga BBM Tak Jelas, Faisal Cs Minta Formula Baku Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri, memberikan keterangan terkait rekomendasi kebijakan BBM bersubsidi, di Kementrian ESDM, Jakarta, Minggu, 21 Desember 2014. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Reformasi Tata Kelola Migas atau yang dikenal dengan Tim Antimafia Migas mendesak pemerintah dan PT Pertamina (Persero) mengungkap formula pembentukan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dijual ke masyarakat. Pasalnya, penetapan harga BBM di Indonesia saat ini dinilai jauh lebih mahal ketimbang negara-negara di Asia Tenggara.

“Pertamina menyebut keekonomian harga Ron88 (premium) itu sekitar Rp 8.000-an per liter. Persoalannya, apa sih sebetulnya keekonomian. Pertamina punya versi keekonomian, sementara pemerintah punya versi keekonomian. Jadi yang benar mana,” ujar Faisal Basri, Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas di Jakarta, Rabu (1/4).

Faisal mengungkapkan sejak tim reformasi mengeluarkan rekomendasi terkait formula pembentukan harga BBM, manajemen Pertamina masih juga belum ajeg mengenai itu. Pasalnya, dalam penetapan harga jual BBM, komponen pembentukan harga atau yang dikenal dengan 'alfa' kerap berubah-ubah.


“Ketika ditanya ke menteri-menteri pun punya pandangan berbeda soal (harga keekonomian dan formula). Kami baca hasil reportase anda (media), Pak Menko beda, Menkeu beda. Jadi repot (ketika) Wapres ngomong, Presiden juga ngomong. Kami ingin ada leadership supaya delivery pesannya kepada masyarakat on size,” tutur Faisal.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, sebelum 2015, komponen alfa berada pada level Rp 728 per liter. Angka tersebut merupakan kalkulasi dari 3,32 persen harga minyak mentah di pasar Singapura (mean of platts Singapore/MOPS) ditambah dengan Rp 484 per liter berikut komponen gamma.

Namun, per 1 Januari 2015, rumusan tersebut diubah dengan perhitungan 3,92 persen MOPS ditambah Rp 672 per liter. Dengan demikian besaran komponen alfa naik menjadi Rp 891 per liter.

Belum genap sebulan, formulanya kembali diubah pada 19 Januari 2015, di mana variabel yang diperhitungkan adalah 3,92 persen MOPS ditambah Rp 1.022 per liter. Mengacu pada perhitungan ini, maka komponen alfa menjadi Rp1.195 per liter.

Sebulan kemudian, 19 Februari 2015, rumusnya kembali diotak-atik, yakni 3,92 persen HIP ditambah Rp 830 per liter sehingga alfanya menjadi Rp 1.011 per liter.

“Kenapa diubah? karena komisi VII meminta penyesuaian BBM per satu bulan dan alfanya Rp 1.000 per liter. Jadi (rumusan) ini akan berubah terus karena mencari pola,” jelas Faisal.

Melihat kejanggalan tersebut, Faisal mengatakan timnya meminta pemerintah menetapkan rumusan yang baku mengenai formula pembentukan harga BBM.

“Sebab itu kami meminta pemerintah memperkokoh dan memantapkan formula ini agar lebih akuntabel. Karena kalau berubah-ubah dan harga premium pakai rumus ini akan mendekatkan ke harga Pertamax. Pertanyaannya sekarang, pertamax-nya kemurahan atau premiumnya kemahalan,” tuturnya.

(ags/ags)