Indonesia Raup US$ 3,5 Juta dari Pameran Halal di Malaysia

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Senin, 06/04/2015 11:38 WIB
Indonesia Raup US$ 3,5 Juta dari Pameran Halal di Malaysia Logo halal MUI yang terdapat pada kemasan sebuah produk, dalam Indonesia International Halal Expo 2014 di JIEXPO, Jakarta, Kamis 23 Oktober 2014. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia membukukan transaksi potensial sebesar US$ 3,5 juta dalam keikutsertaan pada The 12th Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) 2015 di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC) 1-4 April 2015 dengan menggandeng 41 perusahaan.

"Indonesia menunjukkan kekuatannya dalam mendukung pasar halal dunia. Dengan nilai transaksi itu, ke depan, kami semakin yakin bahwa Indonesia dapat menjadi pusat produk halal dunia," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak melalui siaran pers di Jakarta, dikutip Senin (6/4).

Nus mengatakan, transaksi potensial tersebut datang dari para buyers atau pembeli internasional yang berasal dari Malaysia, Kanada, Singapura, Dubai, dan Jepang. Sementara permintaan lainnya datang dari Rusia, Arab Saudi, Filipina, dan Myanmar.


Produk-produk yang mendapat permintaan cukup besar dari buyers adalah ikan tuna segar dan kaleng, biskuit, bumbu masak pasta, gula kelapa, rendang, produk kosmetik, serta perawatan badan.

Pameran tersebut dibuka oleh Perdana Menteri Malaysia, Mohd Najib Bin Abdul Razak, yang diikuti oleh sedikitnya 20 negara, antara lain Indonesia, Arab Saudi, Taiwan, Thailand, Afrika Selatan, dan RRT, sementara paviliun Indonesia sendiri merupakan yang terbesar yang terdiri dari 30 stan.

"Pasar produk halal dunia diperkirakan meningkat seiring dengan meningkatnya populasi muslim dunia. Pada 2030, populasi muslim dunia diperkirakan sebesar 2,2 miliar atau 27 persen dari total populasi dunia," ujar Nus.

Menurut laporan Global State of Islamic Economic, permintaan produk halal dunia akan mengalami pertumbuhan sebesar 9,5 persen dalam 6 tahun ke depan, yaitu dari US$ 2 triliun pada 2013 menjadi US$ 3,7 triliun pada 2019.

Pasar halal disadari telah menjadi ceruk pasar yang sangat menarik untuk digarap oleh pelaku industri baik di segmen barang dan jasa. Sementara itu, Atase Perdagangan Indonesia di Kuala Lumpur, Punto Dewi, menyatakan konsumen dunia kini menyadari bahwa produk halal berarti berkualitas dan higienis.

"Melihat tren industri halal yang semakin besar, saatnya pelaku industri menghasilkan produk barang dan jasa dengan mengedepankan kreativitas dan inovasi, karena persaingan di segmen halal akan semakin ketat," katanya.

Menurutnya, partisipasi Indonesia pada MIHAS adalah peluang untuk penetrasi pasar produk halal Indonesia secara internasional, selain kesempatan untuk mengembangkan pasar produk Indonesia di Malaysia.

Pada 2014, ekspor produk makanan olahan dan kosmetik Indonesia ke Malaysia mengalami kenaikan sebesar 1,58 persen menjadi US$ 932,63 juta dari sebelumnya sebesar US$ 918,10 juta pada 2013, dengan pangsa pasar sebesar 11,34 persen dari total impor Malaysia dari dunia.

Nilai ekspor tersebut baru sekitar 10,43 persen dari seluruh nilai ekspor Indonesia ke Malaysia yang tercatat sebesar US$ 8,9 miliar, sehingga masih memiliki peluang cukup besar untuk ditingkatkan. (gir)