Genjot Proyek Bandara, AP II Segera Terbitkan Obligasi Rp 2 T

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 21/07/2015 14:04 WIB
Genjot Proyek Bandara, AP II Segera Terbitkan Obligasi Rp 2 T Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Budi Karya Sumadi (kanan) dan Direktur Komersial & Pengembangan Usaha Angkasa Pura II Faik Fahmi (tengah) saat berkunjung ke kantor redaksi Detik Finance, Jakarta, Rabu (8/7). (CNN Indonesia/Gentur Putro Jati)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Angkasa Pura II (Persero) akan menerbitkan obligasi sebesar Rp 2 triliun pada akhir 2016, yang merupakan bagian dari rencana penerbitan surat utang bertahap sebesar Rp 6 triliun selama dua tahun.

Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) II menjelaskan penerbitan obligasi tersebut merupakan upaya perseroan mencari melengkapi pendanaan pembangunan Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Banten.
 
"Nanti untuk menambah pembiayaan lagi, kami terbitkan obligasi Rp 2 triliun. Setelah itu, maka pembiayaan proyek Terminal 3 akan beres, lalu kita bisa fokus mengerjakan proyek-proyek lainnya," ujar Budi ketika ditemui di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Selasa (21/7).

Selain obligasi, Budi mengatakan perusahaannya telah emngantongi pinjaman dari PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF)  sebesar Rp 400 miliar. Dengan cairnya dana tersebut, Budi optimistis penyelesaian proyek Terminal 3 Ultimate Soetta bisa ditingkatkan menjadi 87 persen dari posisi saat ini 80 persen.


"Untuk Terminal 3, pinjaman dari IIF tersebut bisa membantu penyelasaian proyek sebesar 7 persen, sehingga kami yakin tahun depan bisa selesai tepat waktu," tuturnya.

Selain Terminal 3 Ultimate, Budi mengatakan beberapa proyek yang akan dikerjakan oleh perusahaannya antar alain pembangunan landasan pacu ketiga Soekarno-Hatta, pembangunan east cross, stasiun untuk akses kereta bandara, serta pengadaan moda transportasi otomatis antar-terminal di bandara atau automated people mover system (APMS). Akibat banyaknya proyek ini, maka perusahaan membutuhkan tambahan pinjaman sebanyak Rp 6 hingga 7 triliun lagi.

Pemenuhan akan dana tersebut, lanjutnya, sudah dipenuhi sejak tahun ini. BUMN pengelola 12 bandara wilayah barat ini juga telah memperoleh pinjaman dari PT Bank Internasional Indonesia senilai Rp 1,5 triliun, dari PT Sarana Multi Infrastruktur Rp 500 miliar, dan dari Eximbank Rp 1,5 triliun.

Selain itu, Budi juga mengatakan bahwa perusahaan masih memiliki pinjaman siaga (stand-by loan) sebesar Rp 4 triliun dengan tenor 10 tahun yang bisa digunakan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan.

Lebih lanjut, Budi menjelaskan pinjaman-pinjaman itu nantinya hanya akan memenuhi 60 persen dari kebutuhan pembiayaan proyek-proyek tersebut. Sementara 40 persen kekurangannya akan dibiayai menggunakan kas internal.

Rencananya, perusahaan baru akan menambah pinjaman lagi pada tiga tahun mendatang untuk memenuhi kebutuhan belanja modal kedepannya.

"Di luar obligasi, mungkin kita akan melakukan pinjaman lagi pada tiga tahun mendatang," jelasnya.

Sebagai informasi, Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta adalah proyek senilai Rp 6 triliun yang diharapkan memiliki kapasitas 25 juta penumpang per tahun. Pada pembukaannya, rencananya Terminal 3 hanya akan melayani 12 juta penumpang terlebih dahulu dan sisanya akan dilayani pada awal tahun 2017.

Sementara kebutuhan belanja modal perusahaan sendiri diperkirakan mencapai Rp 52,7 triliun hingga tahun 2021 yang akan dialokasikan bagi pengembangan 13 bandara yang berada di bawah otoritas perusahaan pelat merah ini. Untuk tiga tahun pertama, sebagian besar investasi akan difokuskan untuk mencapai target 15 juta penumpang dengan estimasi pendanaan sebesar Rp 34,7 triliun. (ags/ags)