Bambang mengatakan bahwa karena pelemahan ini bersifat global, Indonesia tidak akan mendapat pengaruh khusus dalam skala besar. Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini telah mencapai angka 13.500 rupiah, menurutnya itu belum masuk tahap mengkhawatirkan. Sebagai contoh, Bambang menyebutkan harga baja yang menurun.
"Walaupun rupiah melemah, harga-harga lainnya seperti baja juga turun," ujarnya dalam pertemuan bersama Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Selasa (4/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak yang bertanya pada saya bedanya sekarang dan 97. Bedanya, tahun ini kita ada kestabilan sedangkan 97 tidak ada," jelas Bambang.
“Untuk saat ini, kestabilan dan sustainability merupakan hal-hal yang akan terus diupayakan oleh pemerintah. Akan terus dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan belanja modal pemerintah dan investasi swasta,” jelas Bambang.
Untuk diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menyentuh level terendah pasca krisis 1998. Secara psikologis, pelemahan ini dinilai bakal menjalar ke semua sektor ekonomi karena bakal berpengaruh terhadap besaran biaya impor dan pada akhirnya kembali menekan daya beli masyarakat.
Bank Indonesia menetapkan kurs tengah rupiah di level 13.495 per dolar AS pada Selasa (4/8), melemah 0,02 persen dari hari sebelumnya. Sementara itu, di pasar uang, rupiah sempat bertengger di level 13.510 hingga 14.00 WIB.
Sejak akhir tahun lalu, kurs tengah rupiah terhadap dolar AS yang ditetapkan BI telah jeblok 8,48 persen. Pada akhir Desember 2014, kurs tengah BI tercatat di level 12.440 per dolar AS.
"Rupiah tertekan karena kondisi eksternal seperti kekuatan AS dan statement Fed rate akan naik. Kalau jelas Fed rate naik, situasi kami harap akan lebih stabil," terang Agus di Jakarta. (gir/gir)