Menurut Sporton, sejumlah data amat menjanjikan. Dia mengutip data International Energy Agency yang menyatakan permintaan batu bara di seluruh dunia akan naik 4,8 persen Year on Year pada 2023-2025. Sementara elektrifikasi dari batu bara akan naik 45 persen sampai 2040.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rendahnya harga batu bara di pasar, menurut Sporton, lebih dipengaruhi oleh situasi perlambatan perekonomian dan penurunan harga komoditas, yang dialami banyak negara, khususnya negara-negara pengkonsumsi batu bara terbesar di dunia, contohnya China. Di negeri Tirai Bambu terjadi perlambatan pertumbuhan permintaan karena negeri itu sedang memperluas sumber daya untuk elektrisifikasinya.
Isu Lingkungan
Adapun mengenai isu lingkungan yang selalu membekap pembangkit listrik berbasis batu bara, Sporton mengatakan harus diakui bahwa batu bara menyumbang 41 persen sumber energi untuk pembangkit listrik dan memberikan akses listrik kepada banyak orang dan menopang perekonomian.
Terkait dampak lingkungan, dia bilang sudah ada teknologi untuk pengolahan batu bara yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Begitu juga teknologi pembangkit listrik yang efisien dan mampu mengurangi emisi karbon 35-40 persen. "Pada beberapa kasus malah bisa sampai 100 persen," tuturnya.
Dia berharap, industri batu bara di Indonesia juga bisa memakai teknologi semacam itu. "Apa yang bisa dilakukan komunitas internasional adalah membantu Indonesia dan negara berkembang lain untuk mengadopsi teknologi itu," ujar dia. "Sehingga kita bisa mendapatkan manfaat batu bara tanpa berbenturan dengan lingkungan."
Indonesia termasuk negara eksportir batu bara terbesar di dunia, bersanding dengan Australia, Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan Kolombia. Tetapi rendahnya harga batu bara acuan (HBA), yang berada di angka US$ 59,19 per ton, dan rendahnya permintaan negara importir batu bara, membuat pemerintah mengkaji ulang target produksi yang dipatok 425 juta metrik ton untuk tahun ini.
Faktanya, sampai Agustus lalu, produksi baru bara mencapai 263 juta ton. Angka ini lebih rendah 15,4 persen dibandingkan produksi periode yang sama tahun lalu, yang mencapai 311 juta ton.
Besaran ekspor batu bara juga menurunn. Hingga akhir Agustus, ekspor batu bara mencapai 211 juta ton. Angka ini turun 18,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang mencapai 258 juta ton. (ded/ded)