Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani menyampaikan bahwa nilai realisasi investasi tersebut berarti kenaikan 151 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level US$ 97,5 juta.
“Naiknya realisasi China ini menarik karena selama ini dari sisi komitmen mereka memang selalu tinggi, namun dalam proses realisasinya rendah. Rasio komitmen dan realisasi masih rendah dikisaran 10 persen,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (25/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Franky menambahkan bahwa naiknya realisasi investasi China tersebut merupakan sesuatu yang positif dan menunjukkan bahwa upaya-upaya untuk menyakinkan yang dilakukan pemerintah mulai membuahkan hasil.
Secara rinci, investasi Negeri Tirai Bambu dalam kurun periode kuartal III tahun 2015 tersebut masuk ke sektor primer seperti tanaman pangan dan perkebunan dengan jumlah investasi mencapai US$ 92 juta, diikuti oleh sektor industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik dengan jumlah investasi mencapai US$ 57 juta, serta industri makanan mencapai US$ 41 juta.
Terkait lokasi investasi, Franky mengungkapkan masih didominasi di Kalimantan Selatan dengan nilai investasi mencapai US$ 132,3 juta, diikuti oleh Provinsi DKI Jakarta dengan nilai investasi US$ 38,4 juta dan Provinsi Sulawesi Tenggara US$ 27,9 juta.
“Jadi masih dengan semangat Indonesia sentris mendorong investasi di luar Jawa sehingga sebaran investasi bisa dapat terdistribusikan dengan baik,” katanya.
Lebih lanjut, realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), Januari-September meningkat 16,4 persen sebesar Rp 133,2 triliun, sedangkan realisasi investasi PMA naik 16,9 persen sebesar Rp 266,8 triliun. (gir/gir)