BI Dorong Penggunaan Yuan dalam Transaksi Dagang RI-China

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Sabtu, 21/11/2015 17:49 WIB
BI Dorong Penggunaan Yuan dalam Transaksi Dagang RI-China Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubenur di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (17/11). (Antara Foto/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo mendukung penggunaan renminbi atau yuan dalam transaksi dagang dan investasi Indonesia dengan China.

Pernyataan Agus ini merupakan bentuk apresiasi BI atas keputusan Pemerintah China meningkatan jumlah fasilitas pertukaran mata uang untuk Indonesia dalam kerangka Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) menjadi US$20 miliar.

“Bahwa di pertemuan pemimpin kita, dalam hal ini Presiden Jokowi (Presiden Joko Widodo) dan Presiden Xi (Xi Jinping) dari Tiongkok, (yang) kemudian dikomunikasikan tentang lines bilateral currency swap arrangement meningkat menjadi US$20 miliar dolar itu kita sambut baik,” ujar Agus di kantor pusat Bank Indonesia, Jumat (20/11).


Sebelumnya, Presiden Joko Widodo bertemu dengan Presiden Xin Jinping di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Antalya, Turki.Dalam pertemuan kedua pimpinan negara tersebut, China berkomitmen untuk meningkatkan pasokan yuan untuk mendukung pertukaran mata uang dengan rupiah menjadi setara US$ 20 miliar.

Agus menilai dukungan likuiditas tersebut merupakan bentuk pertahanan kedua (second line of defense) dalam menghadapi tekanan pasar keuangan melalui fasilitas transaksi perdagangan kedua negara. Nantinya, jelas Agus, perdagangan antara Indonesia dan China diarahkan untuk menggunakan  mata uang renminbi maupun rupiah.

“Jadi tidak perlu menggunakan mata uang lain karena ini adalah hubungan dagang dan investasi diantara dua negara itu,” ujar mantan Menteri Keuangan ini.

Selain itu, lanjut Agus, inisiatif tersebut juga sejalan dengan rencana renminbi atau yuan yang akan disahkan sebagai mata uang internasional.

 “Ini juga sejalan dengan rencana dari renminbi untuk menjadi mata uang internasional yang diperkirakan di tahun 2015 ini sudah akan disetujui, dikukuhkan menjadi bagian dari special drawing right (hak penarikan khusus di IMF),” tutur Agus.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Sepanjang Januari-Oktober 2015, total ekspor non migas Indonesia ke Negeri Tirai Bambu mencapai US$11,01 miliar atau 9,88 persen dari total ekspor non migas Indonesia dalam periode yang sama US$111,46 miliar.

Sementara itu, total impor non migas dari China ke Tanah Air mencapai US$23,82 miliar atau 24,24 persen dari total impor nonmigas US$97,87 miliar. (ags/ags)


BACA JUGA