Menkeu: 2015, Puncak Segala Permasalahan Ekonomi

Agust Supriadi, Elisa Valenta Sari , CNN Indonesia | Senin, 07/12/2015 06:50 WIB
Menkeu: 2015, Puncak Segala Permasalahan Ekonomi Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro saat menerima tim CNNIndonesia.com di rumah dinasnya, Minggu (6/12). (CNN Indonesia/Gentur Putro Jati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menilai 2015 merupakan tahun perdana yang tak mudah dihadapi oleh pemerintahan Joko Widodo. Sebab komplikasi permasalahan ekonomi dunia mencapai puncaknya pada tahun ini dan memberikan imbas negatif bagi Indonesia, setelah selama 2-3 tahun sebelumnya meradang.

Kepada tim CNNIndonesia.com di rumah dinasnya kemarin, Bambang menyebut apa yang terjadi sepanjang tahun ini terhadap perekomian negeri sebenarnya sudah mulai muncul pada periode sebelumnya,

"Jadi boleh dibilang 2015 ini akumulasi dari segala permasalahan," ujar Bambang, Minggu (6/12).

Sumber utama masalah ekonomi global berdasarkan catatan Bambang adalah menguatnya isu kenaikan tingkat bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) yang wacananya mengemuka sejak pertangahan 2013. Merebaknya isu tersebut berbarengan dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Tapi karena intensitasnya dan kemungkinan kenaikannya pada tahun ini, khususnya pada akhir tahun, sehingga tekanan terhadap rupiah juga menjadi lebih kuat di tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya," jelas Bambang.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015, asumsi kurs dipatok sebesar Rp 12.500 per dolar. Namun pada penutupan perdagangan Jumat (4/12) pekan lalu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah menembus level Rp 13.833 per dolar.

Putra dari Sumantri Brodjonegoro itu menambahkan, masalah ekonomi global berikutnya yang sebenarnya sudah berlangsung sejak 2012 adalah tren penurunan harga komoditas. Menurutnya, akhir dari booming harga komoditas mencapai titik terendahnya pada tahun ini.

"Kemudian juga pada saat yang sama, penurunan harga minyak yang  mulai terjadi pada 2014, ini juga mencapai titik terendahnya pada 2015," katanya.

Semua itu, lanjut Bambang, tak lepas dari pengaruh perlambatan ekonomi global yang semakin diperparah oleh perlambatan ekonomi China. Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) itu memperkirakan pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu pada tahun ini di bawah 7 persen.

Sementara untuk ekonomi global, dia mengutip kajian International Monetery Fund (IMF) yang meramalkan pertumbuhannya pada tahun ini hanya 3,1 persen. Angka tersebut lebih rendah dari realisasi pertumbuhan tahun lalu 3,4 persen maupun proyeksi tahun depan 3,6 persen. 

"Artinya 2015 memang lebih jelek dari tahun lalu dan kemungkinan lebih jelek dari tahun yang akan datang," tuturnya.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Kejutan Akhir Tahun The Fed