Kepada tim CNNIndonesia.com di rumah dinasnya kemarin, Bambang menyebut apa yang terjadi sepanjang tahun ini terhadap perekomian negeri sebenarnya sudah mulai muncul pada periode sebelumnya,
"Jadi boleh dibilang 2015 ini akumulasi dari segala permasalahan," ujar Bambang, Minggu (6/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi karena intensitasnya dan kemungkinan kenaikannya pada tahun ini, khususnya pada akhir tahun, sehingga tekanan terhadap rupiah juga menjadi lebih kuat di tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya," jelas Bambang.
Putra dari Sumantri Brodjonegoro itu menambahkan, masalah ekonomi global berikutnya yang sebenarnya sudah berlangsung sejak 2012 adalah tren penurunan harga komoditas. Menurutnya, akhir dari booming harga komoditas mencapai titik terendahnya pada tahun ini.
"Kemudian juga pada saat yang sama, penurunan harga minyak yang mulai terjadi pada 2014, ini juga mencapai titik terendahnya pada 2015," katanya.
Semua itu, lanjut Bambang, tak lepas dari pengaruh perlambatan ekonomi global yang semakin diperparah oleh perlambatan ekonomi China. Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) itu memperkirakan pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu pada tahun ini di bawah 7 persen.
Sementara untuk ekonomi global, dia mengutip kajian International Monetery Fund (IMF) yang meramalkan pertumbuhannya pada tahun ini hanya 3,1 persen. Angka tersebut lebih rendah dari realisasi pertumbuhan tahun lalu 3,4 persen maupun proyeksi tahun depan 3,6 persen.
"Artinya 2015 memang lebih jelek dari tahun lalu dan kemungkinan lebih jelek dari tahun yang akan datang," tuturnya. (gen)