Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan salah satu argumen yang disampaikan oleh pengusul adalah dengan lebih dibukanya investasi asing untuk hotel dan restoran, diharapkan dapat meningkatkan standar layanan kualitas hotel dan restoran yang ada di Indonesia. Hal itu pada ujungnya dapat mendukung berkembangnya sektor pariwisata di Indonesia.
Ia menjelaskan, regulasi panduan investasi saat ini mengatur untuk hotel bintang 3 ke atas sudah terbuka 100 persen untuk asing. Namun untuk hotel bintang 1 dan bintang 2, masih dibatasi maksimal kepemilikan sahamnya 51 persen asing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, ia menyatakan terdapat banyaknya keinginan PMA untuk menyetorkan modal yang lebih besar namun terhalang dengan keterbatasan kemampuan penyetoran modal pemegang saham lokal. Perkembangan hotel dan restoran dinilai dapat mendukung upaya menarik wisatawan ke Indonesia.
“Ini merupakan target pemerintah yang harus didukung oleh seluruh instansi dan komponen masyarakat yang terlibat sebagai stakeholder pariwisata di Indonesia,” ungkapnya.
Sepanjang periode 22 Oktober 2014- 11 Desember 2015, tim pemasaran investasi BKPM mengidentifikasi adanya beberapa 8 proyek investasi di sektor hotel dan restoran.
Kedelapan minat investasi tersebut masing-masing 2 proyek investasi dari China sebesar US$ 590 juta dengan rencana lokasi di Lombok, NTB dan Batam, Kepulauan Riau, 2 proyek dari Uni Emirat Arab di Jakarta dan Bali, 2 proyek dari Korea Selatan yang merencanakan berinvestasi di Semarang dan Bandung, serta masing-masing 1 proyek investasi dari Australia senilai US$ 1,7 Juta dan Rusia yang mengambil lokasi di NTB.