Seperti dikutip dari CNNMoney, perusahaan elit Wall Street ini percaya harga minyak tengah bersiap untuk terjun ke posisi terendah baru di bawah US$26 per barel, meskipun terdapat pembicaraan dari organisasi pengekspor minyak (OPEC) untuk menyelamatkan harga dengan mengurangi tingkat produksi.
"Ini mungkin sudah terlalu terlambat bagi para produsen di OPEC untuk dapat mencegah penurunan besar lainnya dalam harga minyak," tulis analis Goldman dalam laporan penelitian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun skeptisisme dari Goldman dan pengamat minyak lainnya telah membuat harga minyak mentah amblas 6 persen pada hari Senin ke sekitar level US$31,75 per barel.
Namun, jika harga minyak jatuh lebih jauh, terdapat kemungkinan adanya kepanikan di Wall Street yang selanjutnya bisa menghantam portofolio investasi Amerika. Investor telah terobsesi dengan minyak akhir-akhir ini, dimana harga saham yang bergerak hampir sejalan dengan penurunan harga minyak mentah.
Meskipun minyak murah seharusnya menjadi positif secara keseluruhan untuk AS, investor telah berfokus pada kelemahan, termasuk penyusutan keuntungan bagi perusahaan energi, kebangkrutan perusahaan minyak dan masalah di pasar negara berkembang seperti Brasil.
Harga minyak dan pasar saham telah meningkat tajam sejak 20 Januari. Dalam minggu terakhir, harga minyak naik sampai setinggi US$34,82 per barel, naik luar biasa 33 persen dari level rendah baru-baru ini di US$26,19.
Penaikan ini sebagian didorong oleh harapan bahwa anggota OPEC akan mengadakan pertemuan darurat dan setuju untuk memangkas produksi secara terkoordinasi. Rusia menguatkan rencana tersebut, ketika menteri energi mengatakan OPEC dan produsen non-OPEC mempertimbangkan 5 persen penurunan produksi.
Seorang sumber OPEC dari negara teluk mengatakan kepada CNN pada pekan lalu bahwa produsen regional "bersedia melakukan apa pun untuk menstabilkan pasar" dan "semua pilihan terbuka."
Tapi Goldman tidak menggubris pembicaraan OPEC tersebut.
"Kami terus melihat pemangkasan produksi yang terkoordinasi adalah sangat tidak mungkin dan akhirnya merugikan diri sendiri," tulis Goldman dalam laporan. (gir/gen)