Deputi Bidang Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis mengatakan capaian itu membantu pencapaian realisasi investasi tahun lalu yang sebesar Rp545,4 triliun. Ia juga melanjutkan, kebanyakan masalah yang dihadapi oleh investor tersebut terkait dengan pembebasan lahan dan perizinan impor bahan baku yang sering menghambat realisasi investasi.
"Selain itu, kami juga temukan ada lokasi investasi yang berbenturan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) daerah setempat. Penyelesaiannya kan perlu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dan tidak ada penyelesaian yang cess pleng untuk mengatasi hal tersebut," jelas Azhar di Jakarta, Selasa (9/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Debottlenecking ini muncul karena investor melaporkan ada kesulitan yang sangat kompleks, kalau mereka tidak melaporkan ya BKPM tidak bisa fasilitasi," tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan ke-42 proyek sisanya akan segera difasilitasi tahun ini dan diupayakan ada yang bisa terealisasi secara penuh. Bahkan, sudah ada tujuh proyek yang akan debottlenecking lagi yang muncul di dua bulan pertama tahun 2016 dengan total nilai investasi Rp13,97 triliun.
"Sama juga masalahnya ada yang masalah perizinan lingkungan, impor gula, hingga tingginya harga gas. Maka dari itu, kini proyek yang kita fasilitasi debottlenecking-nya menjadi 49 proyek," tutur Azhar.
Sebagai informasi, realisasi debottlenecking di tahun 2015 secara nilai mencapai 57,22 persen dari target total nilai investasi sebesar Rp463,24 triliun. Sedangkan secara jumlah proyek, BKPM telah membantu 52,27 persen dari jumlah proyek debottlenecking sebanyak 88 proyek.
BKPM sendiri menargetkan realisasi investasi tahun ini sebesar Rp594,8 triliun atau meningkat 9,06 persen dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar Rp545,4 triliun. (gen)