Director for Economic Analysis ADB Edimon Ginting mengatakan hampir seluruh negara di dunia saat ini mengalami penurunan potensi pertumbuhan ekonomi akibat anjloknya harga komoditas global.
"Kalau turun apa obatnya? Bukan makro, bukan fiskal ataupun moneter. Fiskal dan moneter cuma sebentar 1-2 tahun. Tapi obat sebetulnya reformasi struktural, ini yang bikin penting. Ini terbukti di beberapa negara," kata Edimon usai acara BI-ADB Joint Workshop di kantor Bank Indonesia pusat, Jakarta, Rabu (23/3)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus fokus pada investasi, baik domestik maupun asing. Selain itu, sumber pertumbuhan ekonomi kita adalah bagaimana caranya lebih produktif," katanya.
"Tapi mungkin tidak akan setinggi yang diproyeksikan pemerintah karena kita tahu pemerintah itu juga sebagian proyeksinya belum merefleksikan apa yang terjadi terkini, barangkali ada beberapa hal yang perlu di adjust, melihat kondisinya yang sudah berubah," katanya.
Korbankan Defisit Transaksi Berjalan
Sementara itu Bank Indonesia (BI) memprediksi neraca transaksi berjalan (CAD) akan tetap mengalami defisit, bahkan melebar dari target tahun ini akibat tingginya aktivitas ekspor impor bahan baku dan modal guna menopang pembangunan infrastruktur.
"Wajar kalau tahun ini dengan infrastruktur yang meningkat, belanja modal yang meningkat, investasi pemerintah yang meningkat, tentu saja ada dampaknya terhadap transaksi berjalan," ujar Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo.
"Dari sisi makro ekonomi, ini tidak membahayakan," katanya.
Meski CAD diprediksi melebar, Perry menjamin otoritas fiskal dan moneter akan berkoordinasi guna menjaga keseimbangan kondisi perekonomian.
"Mari kita percepat reformasi struktural, tentu kita akan balance supaya stabil dan untuk tahun ini dan beberapa tahun ke depan, kita belum melihat adanya suatu bahaya dalam stabilitas makro ekonomi," katanya. (gir)