Budi Armanto, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II OJK mengatakan, revisi target dilakukan karena melihat masih rendahnya realisasi pertumbuhan kredit. Padahal OJK sendiri meramalkan, tahun ini terjadi pertumbuhan penyaluran kredit di kisaran 12-14 persen.
"Revisi proyeksi nanti kami lakukan akhir Juni," kata Budi, dikutip dari kantor berita Antara, Rabu (1/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Juli kita akan berikan kesempatan bank lakukan revisi," kata Budi.
Bos bank pelat merah terbesar di Indonesia mencatat, dalam tiga bulan pertama tahun ini penyaluran kredit Mandiri hanya tumbuh 8,7 persen atau lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.
"Range OJK 12-14 persen memang masih masuk akal, tapi kalau untuk kami mungkin masih di range bawah itu," kata Kartika, kemarin.
"Kami duga di kuartal III akan lebih naik, karena ada dampak belanja pemerintah. Tahun lalu kan belanja pemerintah baru kencang di kuartal IV, tahun ini harusnya kuartal III lah," kata Tiko.
Efektivitas LTV
Terkait rencana Bank Indonesia (BI) yang akan melakukan revisi kebijakan Loan to Value (LTV) untuk kredit pemilikan rumah (KPR), Budi Armanto menyebut OJK mengapresiasi rencana kebijakan tersebut.
Namun, lanjutnya, efektivitas kebijakan yang ditujukan untuk membantu peningkatan kredit tersebut masih tergantung kondisi pasar yang saat ini permintaannya masih lemah.
"Walau LTV dinaikkan tapi tergantung kondisi pasar, demand di masyarakat dan suku bunga juga mempengaruhi," ujar Budi. (gen)